Kapan Kondisi dan Waktu yang tepat Untuk Menyerah?

Kapan Kondisi dan Waktu yang tepat Untuk Menyerah?

Kapan Kondisi dan Waktu yang tepat Untuk Menyerah?

Yah, kondisi otak yang jenuh dan pekerjaan yang tak ada habis-habisnya terkadang membuat Anda gampang menyerah.

Deadline sudah didepan mata dan tugas masih jauh dari kata “Selesai”.
Saya menyerah!

Bisnis yang tak kunjung memberikan hasil yang diinginkan, sementara tenaga, waktu dan dompet sudah terkikis habis.

Saya menyerah!

Usaha yang terus berjalan dengan dilandasi sebuah mimpi dan disambut dengan masa depan yang tak pasti. Ketakutan terus datang membayang-bayangi.

Saya menyerah!

Kerja terus, jenuh terus. Otak dan hati jadi tak sinkron. Jadi jangan terlalu berharap diri ini termotivasi.

Saya menyerah!

Antara sanggup dan tidak. Tantangan yang menghampiri selalu membawa partnernya, gangguan. Fokus perlahan menjadi pudar, padahal tugas terus-terusan menumpuk.

Saya menyerah!

Tapi tunggu dulu, selemah itukah saya?

Apakah hanya karena hal seperti itu saya harus menyerah?

Kapan sih waktu terbaik untuk menyerah?

Apakah saat kita mendapati kesulitan? Atau harus menunggu waktu tertentu dulu, tapi berapa lama?

Ok tenang, tarik nafas dulu gaes!

Dalam hal menyerah, kita juga perlu memiliki strategi.

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya Anda akan menemukan kondisi dimana Anda terpaksa untuk menyerah.

Namun jangan asal langsung menyerah dulu. Pelajari bagaimana kondisi yang Anda alami baru memutuskan apakah ingin menyerah atau tidak.

Dalam postingan ini akan dijelaskan seperti apa sih kondisi atau waktu yang tepat untuk bilang “Menyerah!”.

Maka dari itu Anda disarankan untuk membaca postingan ini sampai akhir jika tak ingin memahaminya hanya setengah-setengah.

Ok langsung ke topik.

Sebenarnya tanpa Anda sadari, Anda akan selalu melalui fase penentu apakah Anda ingin memberikan tenaga ekstra untuk melanjutkan apa yang Anda mulai, atau justru malah berhenti dan melepaskan semua yang telah Anda investasikan di awal.

Seth Godin menyebutkan fase tersebut sebagai curve, dalm bukunya yang berjudul “The Dip”.

Dan dengan memahami curve inilah Anda nantinya akan bisa memutuskan kapan harus lanjut saat menemukan masalah dan kapan untuk mundur, serta mencari haluan lain.

Baca Juga : 5 Tips Cara Melamar Kerja Via Online Di Jobstreet Agar Dipanggil dan Diterima

Curve 1 : The Dip


The Dip is what separate the best in the world from everyone else. When you decide to try something new it’s exciting. You get instant feedback which makes you feel good. As you continue learning, there is a shift. The activity starts becoming difficult. This is what Seth Godin calls The Dip.

the dip

The Dip adalah kondisi dimana Anda memulai melakuan sesuatu dengan mudah dan menyenangkan, tetapi di tengah perjalanan itu Anda akan menemukan kesulitan yang menghadang.

Jika Anda adalah seorang master matematika, awalnya mungkin Anda akan mendapati rumus dan soal mudah yang membuat Anda semangat untuk mempelajarinya lebih dalam.

Dan akhirnya hal itu tak akan terjadi lagi saat The Dip datang.

Saat Anda mengalami fase ini jangan berhenti, bersyukurlah, dan tetap tawakkal kepada Allah SWT.

The Dip adalah sebuah indikator yang menunjukkan apakah Anda akan menjadi orang yang gagal dengan kemampuan rata-rata pada The Dip atau menjadi seorang master yang berhasil keluar dari The Dip dan melanjutkan perjalanan.

The Dip mengharuskan Anda untuk melakukan pengorbanan. Baik itu berupa waktu, tenaga, emosi, maupun uang.

Intinya, orang-orang tak hanya berhasil keluar dari The Dip. Tetapi juga mereka mampu bertahan  di puncak.


Curve 2 : The Cul-De-Sac


The Cul-De-Sac

Merupakan fase dimana Anda tetap bekerja, kerja, dan kerja tetapi sama sekali tak ada yang berubah. Tak menjadi lebih baik maupun jadi lebih buruk.

Dalam fase inilah dimana kita seringkali kesulitan dalam mengambil keputusan.
Mengapa?

Karena kita tak mau mengakui bahwa apa yang sebenarnya kita lakukan tak akan mengubah situasi jadi lebih baik. Berapapun usaha, tenaga, dan waktu yang kita keluarkan.

Solusi terbaik agar kita keluar dari fase ini adalah dengan mengakuinya.

Dengan mengakui bahwa apa yang dikerjakan tidak membawa ke arah yang lebih baik, Anda harus berhenti secepatnya.

Namun apakah kita memang harus benar-benar berhenti di fase ini?

Tergantung, bisa iya bisa tidak.

Tidak, apabila Anda tetap menjunjung tinggi  arti kata standar, rata-rata, dan zona nyaman.
Iya, bila Anda menginginkan keadaan yang lebih baik dan menjadi yang terbaik.

Karena untuk apa juga kita melanjutkan sesuatu yang tidak membuat kita berkembang. Ingatlah bahwa kita tak akan pernah kemana-mana jika berada di fase itu.


Curve 3 : THE CLIFF


THE CLIFF

The cliff merupakan fase yang jarang terjadi, tetapi jika terjadi sangat menakutkan.

The cliff adalah fase dimana semakin kita melakukan sesuatu akan semakin baik yang kita dapatkan. Namun pada akhirnya kita akan jatuh dan hancur berkeping-keping.

Enaknya yah kita sama sekali tidak menemukan kesulitan apapun saat melakukannya. Semakin lama kita jadi semakin bersemangat melakukannya dan tak mau berhenti.

Dan tiba-tiba saja setelah masa-masa positif tadi, kita langsung mendapatkan masalah besar yang membuat kita jatuh dan tak bisa bangkit lagi.

Salah satu contoh sederhananya adalah seorang perokok.

Mereka awalnya akan terus-terusan merokok karena dengan merokok akan memberikan mereka timbal balik positif.

Namun karena rasa ketagihannya itu mereke jadi tidak mau berhenti. Sampai akhirnya mereka terkena kanker yang membuat mereka berhenti merokok dan turun dari puncak.

Baca Juga : Cara Merubah Mindset Diri Sendiri Terdahsyat Dari Pola Pikir Negatif Menjadi Positif


JANGAN SALAH DALAM MENENTUKAN FASE


Kita telah mengenal tiga fase yang menunjukkan apakah kegiatan yang kita lakukan akan memberikan hasil yang diimpikan atau tidak.

Namun ada hal yang justru bisa saja membuat kita jadi salah paham dan akhirnya mengambil keputusan yang sembrono.

Jadi ada baiknya kalau Anda mengikuti 2 langkah berikut ini :


1. Tanyakan Pada Diri Sendiri


Apakah saya sekarang berada pada The Dip?

Ataukah pada The Cul-De-Sac?

Atau justru The Cliff?

Apabila Anda paham dimana posisi Anda sekarang, maka Anda bisa langsung melangkah ke poin yang kedua.


2. Hiraukan Fase Selain The Dip


The Dip merupakan fase yang menawarkan Anda keberhasilan untuk mencapai sesuatu.

Sementara The Cul-De-Sac dan The Cliff hanya akan membawa Anda dalam satu akhir yakni kegagalan di puncak.

Maka saat Anda sadar bahwa Anda sedang tidak berada di fase The Dip, keluarlah.

Berhentilah sekarang!

Karena semakin Anda menginvestasikan waktu ke The Cul-De-Sac, semakin banyak kebosanan yang terakumulasi dan semakin banyak hal yang terbuang.

Semakin Anda menginvestasikan waktu ke The Cliff maka Anda akan mendapatkan kesenangan sesaat dan berakhir pada kehancuran.

Baca Juga : Alasan Melamar Pekerjaan Untuk Anda yang Mau Interview Kerja di Bank, BUMN, dan Perusahaan


PUTUSKAN MULAI DARI SEKARANG ATAU TIDAK SAMA SEKALI!


Sudah waktunya Anda mengambil waktu sejenak untuk berpikir apakah kegiatan yang Anda lakukan adalah The Dip atau tidak.

Jika iya, usahakan untuk bertahan dan melaluinya.

Jika tidak, berhentilah sekarang juga.

Anda tentu tahu bahwa berhenti bisa jadi perkara yang mudah dan bahkan bisa jadi sebuah perkara yang sulit.

Saat tempat Anda sekarang menyediakan kenyamanan, Anda bisa melupakan segala impian dan tujuan Anda. Hal itu juga yang menjadikan Anda sangat sulit untuk mengatakan “Berhenti sekarang!”
Satu hal yang harus Anda ingat baik-baik,

Adalah suatu kesalahan besar jika Anda berhenti di fase The Dip.

Apabila perjalanan yang Anda mulai adalah hal yang layak dilakukan, maka berhenti hanya akan membuang semua hal yang sudah Anda berikan.

Berhenti di The Dip hanya akan membuat Anda jadi serial quitter, melakukan banyak hal, tetapi mendapatkan hasil yang sedikit.

Jadi, kapan waktu yang terbaik untuk menyerah?

Disini ada dua poin kesimpulan :

1. Saat Anda sadar bahwa Anda tak berada dalam fase The Dip.

2. Saat Anda tahu bahwa Anda akan menemui The Dip ditengah perjalanan, tetapi Anda tak yakin dan mampu untuk melewatinya.


Anything worth achieving in life has a dip 
-Seth Godin

Baca juga:

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar