Skip to main content

Definisi, Gaya, Karakteristik, Ciri, Contoh, Tipe, dan Bagaimana Kepemimpinan Profetik Dalam Perspektif Islam

Definisi, Gaya, Karakteristik, Ciri, Contoh, Tipe, dan Bagaimana Kepemimpinan Profetik Dalam Perspektif Islam

Hidupcu -  Kepemimpinan profetik ialah suatu kategori kepemimpinan yang unik. Mengapa demikian? Sebab dalam kepemimpinan ini memadukan 3 tipe kepemimpinan. Yaitu kepemimpinan otoriter, laissez faire, serta demokratis.

Di beberapa media banyak yang masih belum paham dan ingin mencari tahu lebih dalam tentang apa dan seperti apa kepemimpinan profetik itu. Dikarenakan di internet masih kurang website atau blog yang membahasnya.

Untuk itu, saya selaku admin hendak membuat suatu ringkasan materi tentang kepemimpinan profetik dalam wujud suatu konten blog yang insyallah bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Khususnya bagi pembaca setia hidupcu.

Untuk memudahkan pembaca, di artikela ini juga saya sediakan table of content atau yang biasa juga dikenal dengan daftar isi. Yakni sebagai berikut.

Daftar Isi
  1. Gaya Kepemimpinan Profetik
  2. Definisi Kepemimpinan Profetik
  3. Kepemimpinan Profetik Dalam Perspektif Islam
  4. Tahapan-tahapan Kepemimpinan Profetik
  5. Karakteristik Kepemimpinan Profetik
  6. Ciri-ciri Kepemimpinan Profetik
  7. Tipe Kepemimpinan Profetik
  8. Contoh Kepemimpinan Profetik



Gaya Kepemimpinan Profetik


Kepemimpinan profetik ialah kepemimpinan yang berusaha membebaskan penghambaan pada manusia, melainkan hanya kepada Allah semata.

Sementara ada juga yang berpendapat bahwa kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang didasarkan atas nabi-nabi.

Yakni bagaimana para nabi bersabar, tekad yang kuat, serta bagaimana nabi bisa pantang menyerah dalam menghadapi lawannya.

Untuk lebih mudah dalam memahami seperti apa kepemimpinan profetik itu, ada baiknya bila Anda memahami dan menganalisis tentang kisah-kisah kepemimpinan para nabi di Al-Qur’an.

Di Al-Qur’an setidaknya diceritakan tentang kisah hidup para nabi yang sangat menginspirasi khususnya untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dan untuk selalu menjadi orang yang meneruskan perjuangan para nabi.

Nama para nabi terkadang dijadikan nama surah dalam Al-Qur’an untuk menandakan bahwa nabi tersebut mengalami kisah terbaik dalam Al-Qur’an.


Definisi Kepemimpinan Profetik


Istilah profetik sebenarnya berasal dari kata prophet yang artinya nabi. Jadi kepemimpinan profetik bisa diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain guna mencapai tujun tertentu sebagaimana yang dilakukan oleh nabi dan rasul.

Istilah profetik di Indonesia awalnya diperkenalkan oleh Kuntowijoyo melalui gagasannya tentang pentingnya ilmu sosial transformatif yang kemudian disebut sebagai ilmu sosial profetik.

Ilmu sosial profetik ini tak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial yang ada, tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi harus dilakukan, untuk apa, dan oleh siapa.

Intinya ilmu ini berusaha untuk mereorientasi terhadap epistomologi, yatui reorientasi terhadap mode of thought dan mode of inquiry bahwasanya sumber ilmu pengetahuan tak hanya dari rasio dan empiri, melainkan juga datang dari langit, yaitu wahyu.

Baca Juga : Gambar, Gaya, Hambatan, dan Hubungan Kepemimpinan Transformasional dengan Kepuasan Kerja, Loyalitas, Serta Kinerja Karyawan Menurut Para Ahli


Kepemimpinan Profetik Dalam Perspektif Islam


Kepemimpinan Profetik Dalam Perspektif Islam

Prof Dr. Kuntowijoyo berpendapat bahwa kepemimpinan profetik ialah kepemimpinan yan membawa misi humanisasi, liberalisasi, serta transdensi.

Tiap orang yang membawa tranformasi harus siap menemui konflik seperti kisah para nabi yang dimusuhi oleh para kaum kafir.

Jadi tiap pemimpin harus berani dan siap untuk menghadapi konflik terhadap orang-orang yang tidak suka padanya.

Bila tidak siap berkonflik maka tak usah bermimpi jadi pemimpin. Perasaan takut sebagai pencetus awal dan takut gagal adalah tanda bahwa Anda belum bisa jadi pemimpin.

Jika dikaji lebih dalam maka misi humanisasi, liberalisasi, dan transdensi adalah sebagai berikut :


1. “Tu’ Muruna bil ma’fur” yang berarti misi humanisasi

Pada poin yang pertama yakni humanisasi, bisa juga dikatakan sebagai memanusiakan manusia. Yakni mengajak untuk lebih memanusiakan manusia dengan senantiasa berbuat baik pada orang lain.

Jika kita berbuat baik pada seseorang, niscaya ia juga akan berbuat baik pada kita. Bahkan terkadang ia akan berbuat jauh lebih baik dari apa yang kita lakukan padanya.


2. “Tanhauna anil munkar” yang berarti misi liberalisasi

Misi ini dilakukan dengan cara membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan serta ketertindasan.

Jadi manusia bebas dari rasa tertindas dan takut. Untuk bisa menjalakan misi ini, pemimpin butuh keberanian yang tinggi, sebab ia harus siap menghadapi konflik yang datang padanya.

Sejatinya pemimpin harus siap dan berani untuk berkonflik. Namun bukan berarti kita harus mencari dan menciptakan masalah.

Tetapi kita harus berani berkonflik dengan orang-orang yang tidak senang dengan apa yang kita lakukan. Namun dengan catatan apa yang kita lakukan itu adalah benar.

Tanpa adanya keberanian maka tak akan ada perubahan yang terjadi, khususnya perubahan ke arah yang lebih baik.


3. “Tu’ minuna billah” yang berarti misi transdensi

Misi yang satu ini menggabungkan misi yang pertama dan misi yang kedua, yakni misi humanisasi dan misi liberasi.

Atau bisa dikatakan kesadaran ilahiyah yang mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala sesuatu yang dilakukan.


Tahapan-tahapan Kepemimpinan Profetik


# Proses Pembacaan

Ialah cara membaca kritis dan cermat, baik itu secara tersirat maupun tersurat. Melalui proses membaca secara kritis, kita bisa menguasai informasi berupa konsep, teori, dan paradigma dasar.

Dalam pembacaannya juga harus dibaca ayat kauliyah dan keuniyahnya.


# Proses Penyucian

Yakni setelah kita membaca dan mempelajari ilmunya, maka selanjutnya adalah bagaimana menyucikan ilmu yang telah kita pelajari.


# Proses Pengajaran

Proses berikutnya setelah kita menyucikan ilmu adalah menyucikan orang-orang yang ada di sekitar kita dengan mengajarkan ilmu tersebut.


# Proses Penguasaan

Dalam poin ini dilakukan penguasaan informasi dan masalah-masalah baru dan dinamis. Seperti halnya Nabi Daud yang menguasai teknologi tembaga, besi, dan senjata perang.

Setelah melalui keempat tahap tersebut, sang pemimpin harus memiliki visi dan misi ketuhanan yang kuat dalam bekerja.

Seorang pemimpin juga hendaknya memiliki daya regenerasi. Yang berarti ia mampu mewariskan sifat-sifat kepemimpinan profetiknya. Seperti berilmu, kuat, dan amanah.


Karakteristik Kepemimpinan Profetik


Karakteristik Kepemimpinan Profetik

1. Jujur

Kepemimpinan profetik mengutamakan integritas moral (akhlak), satu dalam perkataan dan perbuatan, jujur, serta sikap dan perilaku etis.

Sikap jujur ialah nilai-nilai transdental yang mencintai dan mengacu pada kebenaran yang datangnya dari Allah SWT dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.

Perilaku pemimpin yang jujur selalu berlandaskan kebenaran, keyakinan, ketulusan, keadilan, serta menghormati kebenaran yang diyakini pihak lain yang mungkin berbeda dengan keyakinannya.

Bukannya merasa diri paling benar.


2. Amanah

Kepemimpinn profetik berisikan niai-nilai tanggung jawab, dapat dipercaya, dapat diandalkan, jaminan kepastian, rasa aman, cakap, serta profesional dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.

Sikap tanggung jawab, terpercaya, dan amanah merupakan karakter pemimpin yang senantiasa mampu menjaga kepercayaan yang diberikan oleh orang lain.

Perilaku amanah mampu menajamkan kepekaan batin seorang pemimpin untuk bisa membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan publik.


3. Tabligh

Kepemimpinan profetik membutuhkan kemampuan komunikasi secara efektif, memiliki visi, inspirasi, serta motivasi yang jauh ke depan.

Pemimpin membutuhkan kemampuan komunikasi dan diplomasi dengan bahasa yang mudah dipahami, diamalkan, dan disampaikan ke orang lain.

Contohnya saja seperti sosok pemimpin yaitu nabi dan rasul. Bahasa yang digunakan sangat berbobot, penuh visi, dan tentu saja menginspirasi banyak orang.


4. Fathanah (Cerdas)

Sosok pemimpin profetik harus mempunyai kecerdasan, baik itu intelektual, emosional, maupun spiritualitas.

Serta harus memiliki kreativitas dan peka terhadap kondisi yag ada sehingga bisa menciptakan peluang untuk kemajuan. Jadi sosok pemimpin itu harus cerdas, kompeten, dan profesional (fathanah).

Pemimpin yang berpatokan pada sifat fathonah nabi ialah pemimpin yang pembelajar, mampu mengambil pelajaran dari pengalamannya, percaya diri, cermat, inovatif, tepat sasaran, berkomitmen, motivasi yang tinggi, serta sadar bahwasanya apa yang dijalankan itu adalah untuk mewujudkan cita-cita bersama yang akan dicapai dengan cara yang etis.


5. Istiqomah (Konsisten)

Kepemimpinan profetik berfokus pada perbaikan berkelanjutan (continous improvement istiqomah).

Pemimpin yang istiqomah disini ialah pemimpin yang taat, tekun, disiplin, pantang menyerah, bersungguh-sungguh, serta terbuka terhadap pengembangan dan perubahan.


6. Mahabbah (Cinta)

Kepemimpinan profetik harus pula mengutamakan mahabbah (cinta). Bukannya kebencian dan pemaksaan.

Karakter pemimpin profetik harus selalu peduli terhadap moral dan kemanusiaan, mudah memahami orang lain, suka memberi tanpa pamrih, mencintai semua makhluk karena Allah, serta dicintai para pengikutnya dengan loyalitas yang tinggi.


7. Shaleh/Ma’aruf

Kepemimpinan profetik merupakan perwujudan ketaatan kepada Allah dan mendarmabaktikan dirinya untuk kesalehan, kearifa, dan kebajikan bagi masyarakatnya.

Sikap taat dan keshalehan para nabi dan rasul berpedoman pada wahyu dan mukjizat dari Allah.

Karakter yang arif dapat melahirkan pesona kharismatik yang merupakan ilham dari ilahi yang terpancar dari permukaan kulit, tutur kata, pancaran mata, sikap, tindakan, serta penampilan.

Pemimpin yang shaleh memiliki kualitas kepribadian individu yang utuh sehingga menyebabkan orang lain menaruh simpati, percaya, dan menganut apa yang ia inginkan. Bisa juga dikatakan bahwa pemimpin shaleh ialah pemimpin yang diakui pengikutnya karena ketaatannya kepada Allah.

Baca Juga : Kumpulan Indikator Gaya Kepemimpinan Menurut Para Ahli (Martoyo, Hasibuan, Wahjosumidjo, dan yang Lainnya)


Ciri-ciri Kepemimpinan Profetik


# Berilmu

Pemimpin yang profetik haruslah seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan dan hikmah yang menjadikannya mampu mengambil keputusan yang tepat dan sejalan dengan akal sehat dan syariat islam.

Seseorang yang lemah akalnya tentu tak akan mampu menyelesaikan urusan-urusan rakyatnya.
Bahkan ia akan kesulitan dalam memutuskan perkara-perkara pelik yang harus segera diambil tindakan.

Pemimpin  yang punya kekuatan akan akan bisa menciptakan kebijakan-kebijakan cerdas dan bijaksana untuk melindungi dan mensejahterakan rakyatnya.

Dan kebalikannya, pemimpin yang tak berilmu pastinya akan merugikan dan menyesatkan rakyatnya. Bukannya menyelesaikan masalah justru ia akan menambah masalah.

Pemimpin yang kurang ilmunya biasanya akan mudah mengeluh, gampang emosi, serampangan, serta gegabah dalam mengambil tindakan. Pemimpin yang demikian tentunya akan semakin menyusahkan rakyatnya saja.



# Kuat/Mampu

Pemimpin profetik harus punya kekuatan saat ia tengah memegang amanah kepemimpinan. Sebab kepemimpinan tak boleh diserahkan pada orang lemah.

Dalam suatu riwayat dituturkan bahwa Rasulullah SAW pernah menolak permintaan dari Abi Dzar Al-Ghifary yang meminta kekuasaan padanya.

Abu Dzar berkata :

Ya Rasulullah, tidakkah engkau mengangkatku sebagai penguasa?

Kemudian Rasulullah menjawab :

Wahai Abuu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang lemah. Padahal kekuasaan itu ialah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan. Kecuali orang yang mengambilnya dengan hak dan diserahkan pada orang yang memang mampu untuk memikulnya.


# Amanah

Pemimpin profetik haruslah memiliki kredibilitas dan integritas yang tinggi serta bisa dipercaya oleh masyarakatnya. Tak goyah akan godaan harta, tahta, dan nafsu seksual dalam menjalankan kepemimpinannya.

Sudah banyak kita saksikan dalam sejarah kepemimpinan manusia, pemimpin-pemimpin yang akhirnya tidak amanah hanya karena terbius oleh kehidupan mewah yang berlebihan, manisnya kekuasaan, dan akhirnya melakukan aksi korupsi yang berujung pada kesengsaraan rakyatnya.

Pemimpin profetik hendanya ia yang mampu menahan dirinya dari segala yang disebutkan sebelumnya. Tetaplah amanah dalam segala situasi hingga mampu berjaya di dunia da akhirat kelak.


# Memiliki Daya Regenerasi

Kriteria pemimpin profetik selanjutnya adalah memiliki daya regenerasi atau seseorang yan mampu mewariskan sifat-sifat kepemimpinan profetiknya ke generasi selanjutnya.

Sebab kepemimpinan profetik bukan hanya janji Allah kepada hamba-Nya atau antara hamba yang satu dengan hamba yang lainnya.

Namun kepemimpinan profetik ialah janji antara Allah dan kontrak antara hamba yang satu dengan hamba yang lainnya sekaligus.

Hanya hamba yang memiliki kesadaran akan peran dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi yang berilmu, kuat, amanah, dan tidak zalimlah yang akan memegang janji dan kontrak kepemimpinan dengan benar, janji kepemimpinan dengan Allah dan kontrak kepemimpinan sesama hamba-Nya.

Bagaimana mungkin kita bisa berjuang mengakkan kepemimpinan profetik selama kita hidup tetapi kita gagal mewariskannya.

Apalagi kalau sampai kita gagal mewariskannya kepada anak cucu kita.

Kalau seandainya kita gagal mewariskan kepemimpinan profetik pada generasi penerus berarti kita telah gagal mewariskan kondisi yang lebih baik.

Jangan sampai anak cucu kita hanya mewarisi gen ideologis, tetapi juga harus mewarisi ideologis.


# Ketaqwaan

Ciri kepemimpinan profetik yang keenam ialah ketaqwaan. Ketaqwaan dianggap begitu penting dimiliki oleh seorang pemimpin atau penguasa.

Bahkan Nabi Muhammad selalu menekankan aspek ini pada para pemimpinnya. Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad melantik pasukan ekspedisi perang, beliau berpesan untuk selalu bertaqwa kepada Allah dan senantiasa bersikap baik kepada kaum muslim yang bersamanya.


Tipe Kepemimpinan Profetik


Tipe Kepemimpinan Profetik

Dalam teori kepemimpinan, tipe kepemimpinan profetik yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW digolongkan sebagai model kepemimpinan situasional.

Dalam model ini Nabi Muhammad menerapkan beberapa tipe kepemimpinan bergantung pada situasi yang dihadapi.

Sejatinya ada tiga tipe kepemimpinan yang dijalankan oleh beliau, yaitu otoriter, laissez faire, dan demokratis.

Ketiganya diterapkan bergantung terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi Nabi. Adapun penjelasan lengkap dari ketiganya adalah sebagai berikut :

1. Kepemimpinan Otoriter

Tipe kepemimpinan ini menggambarkan pemimpin yang mendikte. Artinya membuat keputusan secara sepihak dan membatasi partisipasi bawahan.

Perwujudan kepemimpinan otoriter Nabi Muhammad terlihat dari sikap tegas beliau ketika menghadapi orang kafir dan ketika memberikan hukuman serta pelaksanaan petunjuk dan tuntunan Allah.

Sebab dalam menjalankan aturan yang diperintahkan dan diwahyukan Allah ada beberapa yang tak dapat ditawar-tawar seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.


2. Kepemimpinan Laissez Faire

Tipe kepemimpinan yang satu ini menggambarkan pemimpin yang memberikan kesempatan pada kelompok untuk membuat keputusan dan menyelesaikan pekerjaan atau masalah dengan cara yang menurut mereka pantas.

Dalam menyerukan umat manusia terlihat bagaimana kepemimpinan Nabi Muhammad yang bersifat laissez faire. Beliau sama sekali tak memaksa seseorang dengan kekerasan.

Dalam dakwahnya, tiap manusia diberikan kebebasan dalam memilih agama yang dipeluknya.

Beliau hanya diperintahkan oleh Allah untuk memberi peringatan kerugian bagi yang sombong dan angkuh menolak. Serta seruan keberuntungan bagi yang mau mendengar seruannya.

Jika ada yang menolak beriman kepadanya, beliau tak akan memaksa tetapi hanya memberi peringatan kepada mereka.

Dalam kepemimpinan laissez faire yang diterapkan, beliau berusaha untuk menumbuhkan tanggung jawab dari pribadi masing-masing.


3. Kepemimpinan Demokratis

Tipe kepemimpinan yang ketiga ini menggambarkan pemimpin yang melibatkan bawahan dalam membuat suatu keputusan, mendelegasikan wewenang, serta menggunakan umpan balik untuk melatih bawahan.

Kepemimpinan demokratis Rasulullah terlihat pada kecenderungan beliau menyelenggarakan musyawarah, terutama jika menghadapi masalah yang belum ada wahyunya.

Kesediaan beliau sebagai pemimpin yang mendengarkan pendapat tak hanya dinyatakan dalam sabdanya. Tetapi juga terlihat dalam praktek kepemimpinannya.

Musyawarah dijadikan sarana tukar menukar pikiran dan didalamnya masing-masing orang dapat mengemukakan pendapatnya serta menyimak perasaan orang lain.

Baca Juga : Pengertian, Ciri Serta Contoh Kepemimpinan yang Baik dan Kurang Baik Brainly


Contoh Kepemimpinan Profetik


Seperti yang dijelaskan dalam poin sebelumnya. Kalau kita ingin tahu seperti apa contoh dari kepemimpinan profetik. Maka kita bisa menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai patokan atau contoh bagaimana pemimpin profetik yang sebenarnya.

Yang mana kepemimpinan beliau berdasarkan atas situasi yang dihadapi. Setidaknya ada 3 tipe kepemimpinan yang beliau jalankan, yakni otoriter, laissez faire, dan demokratis.

Baca Juga : Pemimpin dan Presiden Terbodoh, Buruk, Tolol, dan Kejam di Dunia (Indonesia Tidak Termasuk)


Penutup


Demikianlah penjelasan lengkap tentang gaya kepemimpinan profetik. Semoga apa yang dijelaskan dalam artikel ini bisa bermanfaat bagi Anda. Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini dan sampai ketemu kembali di artikel berikutnya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar