Skip to main content

Siapakah Golongan Orang yang Berhak Menerima Zakat Fitrah, Zakat Mal, dan Zakat Penghasilan (Harta)?

Golongan Orang yang Berhak Menerima Zakat

Dalam kehidupan sehari-hari terkadang masih ada juga orang yang kurang paham tentang zakat. Terutama dalam hal siapa orang atau golongan yang berhak menerimanya. Entah itu zakat fitrah, zakat mal, dan zakat penghasilan atau zakat harta.

Sebagai umat Islam, sudah sewajarnyalah kita untuk mengetahuinya. Terlebih lagi membayar zakat adalah salah satu rukun Islam, yaitu yang keempat.

Dalam postingan ini saya akan menjelaskan secara mendetail tentang zakat, khususnya siapa-siapa saja golongan yang berhak menerima zakat. Berikut ini adalah beberapa poin inti yang akan dibahas.

  1. Orang yang Berhak Menerima Zakat Disebut?
  2. 8 Golongan Penerima Zakat
  3. Ayat Alquran Tentang Mustahiq Zakat
  4. Orang yang Tak Berhak Menerima Zakat
  5. Apakah Anak Yatim Piatu Berhak Menerima Zakat?
  6. Apakah Janda Berhak Menerima Zakat?
  7. Orang yang Berhak Menerima Zakat Fitrah
  8. Orang yang Berhak Menerima Zakat Mal
  9. Orang yang Berhak Menerima Zakat Penghasilan


Orang yang Berhak Menerima Zakat Disebut?


Di brainly dan beberapa forum tanya jawab lainnya cukup banyak yang menanyakan tentang disebut apakah orang yang berhak menerima zakat itu? Jawabannya adalah mustahik zakat. Yaitu 8 golongan orang yang berhak menerima zakat seperti yang dijelaskan dalam surah At-Taubah:(60).

Yah, mustahik adalah istilah untuk penerima zakat sedangkan pemberi zakat disebut muzakki. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah beberapa istilah-istilah dalam zakat yang perlu kamu tahu agar tidak terjadi kesalahan dalam penafsiran.
  • Mustahik, yaitu orang yang menerima zakat
  • Muzakki, yaitu orang yang mengeluarkan zakat
  • Fakir, adalah orang yang sama sekali tak memiliki harta
  • Miskin, adalah orang yang penghasilannya tak mampu mencukupi kebutuhannya
  • Gharim, adalah orang yang punya banyak hutang
  • Riqab, merupakan hamba sahaya atau budak
  • Fisabilillah, adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah
  • Mualaf, adalah orang yang baru masuk Islam
  • Ibnu Sabil, adalah musafir atau orang-orang yang sedang berada di perantauan
  • Amil Zakat, adalah panitia yang menerima, mengelola, dan menyalurkan zakat
  • Nisab, yaitu jumlah batasan apakah suatu kekayaan itu wajib dizakati atau tidak

8 Golongan Penerima Zakat


Secara umum, setidaknya ada 8 golongan yang berhak untuk menerima zakat menurut surah At-Taubah ayat 60, golongan tersebut antara lain:


1. Fakir 


8 Golongan Penerima Zakat

Walaupun dua kelompok ini punya perbedaan yang cukup signifikan, namun secara teknis operasional sering disamakan.

Yaitu mereka yang sama sekali tak memiliki penghasilan dan mereka yang memiliki penghasilan tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok diri dan keluarga yang menjadi tanggungannya.

Zakat yang disalurkan pada golongan ini sifatnya bisa konsumtif atau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bersifat produktif atau untuk dijadikan modal usaha.

Fakir adalah mereka yang sama sekali tak memiliki harta untuk memenuhi kebutuhan pokoknya maupun tanggungannya. Baik itu dalam hal sandang, pangan, dan papan.

2. Miskin


mustahik adalah istilah untuk penerima zakat sedangkan pemberi zakat disebut

Mereka yang tergolong miskin adalah mereka yang punya harta dari hasil kerjanya namun masih belum cukup untuk menanggung dirinya dan tanggungannya.

Salah satu pemuka ahli tafsir, Al-thabari berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fakir adalah orang yang walau dalam keadaan butuh tetapi bisa menjaga dirinya untuk tidak meminta-minta.

Sedangkan miskin menurutnya adalah orang yang memiliki kebutuhan tetapi lebih suka merengek-rengek dan minta-minta. Pendapat ini merujuk pada arti kata maskanah (kemiskinan jiwa).

Baik itu fakir maupun miskin tetap berhak mendapat zakat sesuai dengan kebutuhan pokoknya dalam setahun. Karena zakat selalu berulang tiap satu tahunnya.

Patokan kebutuhan pokok yang nantinya dipenuhi adalah berupa makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan pokok lainnya dalam batas-batas kewajaran dan tanpa dilebih-lebihkan.

Diantara kedua kelompok ini, orang yang menerima zakat harus memenuhi syarat “membutuhkan”. Maksudnya sama sekali tidak memiliki pemasukan atau harta, atau tidak punya keluarga yang ikut menanggung kebutuhannya.

3. Amil Zakat (Pengurus)


Penerima Zakat Disebut

Panitia penerima dan penyalur zakat disebut amil zakat. Yah, itulah golongan ketiga yang berhak menerima zakat setelah fakir dan miskin.

Amil zakat adalah mereka yang melaksanakan segala kegiatan pengurusan zakat. Baik itu pengumpulan, penyimpanan, penjagaan, pencatatan jumlah zakat masuk dan keluar serta sisanya. Termasuk juga dalam hal penyaluran dan pendistribusian zakat kepada mustahiknya.

Allah menyediakan mereka upah dari harta zakat yang mereka kelola sebagai bentuk imbalan atas kerjanya dan tidak pula diambil dari selain harta zakat.

Amil zakat biasanya ditunjuk langsung oleh pemerintahan dan memperoleh izin darinya.

Atau kadang juga dipilih langsung oleh instansi pemerintahan yang berwenang oleh masyarakat Islam untuk memungut, membagikan serta tugas lain yang berkaitan dengan zakat.

Termasuk penyadaran atau penyuluhan masyarakat tentang hukum zakat dan menerangkan sifat-sifat pemilik harta yang dikenakan kewajiban membayar zakat.

4. Mualaf 


ayat mustahiq zakat

Mualaf adalah orang-orang yang dianggap masih lemah imannya karena baru masuk Islam.

Alasan mereka diberi zakat adalah supaya kesungguhan dan keyakinannya dalam memeluk Islam semakin bertambah. Bahwa segala pengorbanan yang mereka lakukan untuk memeluk Islam itu tak sia-sia.

Dengan dijadikannya mualaf sebagai salah satu golongan penerima zakat, maka semakin jelaslah bahwa zakat dalam pandangan Islam tak hanya sekedar perbuatan baik yang bersifat kemanusiaan dan sekedar ibadah individu semata.

Beberapa kategori mualaf yang berhak menerima zakat antara lain :
  • Orang yang diberi sebagian zakat agar nantinya mau memeluk Islam.
  • Orang yang diberi zakat dengan harapan agar keistimewaannya semakin baik dan hatinya semakin mantap dalam memeluk Islam.
  • Orang yang diberi zakat karena diharapkan rekan-rekan mereka juga nantinya mau memeluk Islam.

5. Riqab (Hamba Sahaya)


ayat alquran yang menerangkan mustahiq zakat adalah

Riqab merupakan golongan mukatab (budak) yang mau membebaskan dirinya. Atau dengan kata lain budak yang dijanjikan oleh tuannya akan dilepaskan bila ia mampu membayar uang dalam jumlah tertentu. Termasuk pula budak yang belum dijanjikan kemerdekaannya.

Adapun beberapa cara pembebasan budak antara lain :
  • Menolong pembebasan dari hamba mukatab, ialah budak yang telah membuat perjanjian dan kesepakatan dengan tuannya bahwa ia sanggup membayar dengan jumlah tertentu untuk membebaskan dirinya.
  • Seseorang dengan uang zakatnya atau amil zakat dengan uang zakat yang telah dikumpulkan dari para Muzakki kemudian membeli budak untuk dibebaskan.
Karena golongan-golongan seperti ini sudah sangat jarang ditemui, maka zakat untuk mereka dialihkan ke golongan mustahik lain.

Namun ada juga sebagian ulama yang berpendapat bahwa golongan ini masih ada. Yaitu para tentara muslim yang dijadikan tawanan.

6. Gharimin (orang-orang yang memiliki hutang)


dalil 8 golongan penerima zakat

Gharim atau Gharimin adalah orang-orang yang menanggung hutang dan tidak sanggup membayarnya karena telah jatuh miskin.

Adanya kaum Gharimin umumnya karena mereka mendapat berbagai bencana dan musibah, entah itu pada diri maupun hartanya.

Itulah alasan mengapa kaum gharimin mempunyai kebutuhan mendesak dan akhirnya berhutang untuk menghidupi dirinya dan tanggungannya.

Golongan kaum gharimin yang berhak diberi zakat jika memenuhi syarat-syarat berikut ini:
  • Hutang yang dimiliki bukan hutang yang timbul karena kemaksiatan.
  • Orang tersebut berhutang untuk melaksanakan ketaatan atau mengerjakan sesuatu yang diperbolehkan syariat Islam.
  • Orang yang punya hutang tidak lagi sanggup melunasi hutangnya.
  • Hutang yang dimiliki telah jatuh tempo atau sudah harus dilunasi ketika zakat itu diberi kepada si pengutang.
Pemberian harta zakat bagi kaum gharimin haruslah sesuai dengan yang dibutuhkannya. Atau dengan kata lain harta zakat diberikan hanya untuk membayar lunas hutangnya.

Apabila ternyata orang yang memberi hutang membebaskan hutangnya, maka ia wajib mengembalikan bagiannya itu.

7. Fisabilillah


Fisabilillah

Fisabilillah adalah mereka yang berjuang di jalan Allah. Atau yang lebih spesifiknya menurut ulama Fiqih adalah mereka yang memelihara dan melindungi agama serta meninggikan kalimat tauhid melalui berdakwah, berperang, dan berusaha menerapkan hukum Islam.

Golongan orang yang termasuk kategori Fisabilillah adalah da’i, sukarelawan perang yang tidak memiliki gaji, serta pihak-pihak lain yang ikut mengurusi aktivitas jihad dan dakwah.

Namun di zaman sekarang bagian zakat untuk Fisabilillah telah dialihkan untuk membebaskan orang Islam dari hukuman orang kafi.

Bekerja untuk mengembalikan hukum Islam juga termasuk jihad Fisabilillah. Contohnya seperti pendirian pusat Islam yang mendidik pemuda muslim, menjelaskan ajaran Islam dengan benar, memelihara akidah, serta mempersiapkan diri demi membela Islam dari musuh-musuhnya.

8. Ibnu Sabil


Ibnu Sabil

Ibnu sabil bisa dikatakan sebagai golongan orang yang terputus bekalnya selama perjalanan. Ibnu sabil sebagai penerima zakat sering dipahami sebagai orang yang kehabisan biaya di perjalanan ke suatu tempat dan bukan untuk maksiat.

Adapun tujuan pemberian zakat ini agar ia tidak terlantar di tempatnya saat ini meskipun ia di kampung halamannya termasuk orang yang mampu.

Jadi bisa kita pahami bahwa Islam memberikan perhatian kepada orang-orang yang terlantar. Golongan ibnu sabil ini berhak menerima zakat dikarenakan ketidakmampuan sementara.

Para ulama telah sepakat bahwa jumlah harta zakat yang diberi haruslah sesuai dengan jumlah yang cukup untuk menjamin mereka pulang dengan selamat.

Tetapi bila musafir tersebut orang kaya di negerinya dan bisa menemukan seseorang  yang bisa meminjaminya uang, maka zakat tidak diberikan kepadanya.

Beberapa syarat golongan ibnu sabil yang harus dipenuhi agar berhak menerima zakat yaitu sebagai berikut:
  • Sedang melakukan perjalanan di luar lingkungan negeri tempat tinggalnya. Apabila masih di lingkungan negeri sendiri dan ia dalam keadaan membutuhkan, maka ia dianggap sebagai fakir miskin.
  • Perjalanan yang dilakukan tidak melanggar syariat Islam. Dengan begitu maka bisa diantisipasi jikalau muzakki memberikan bantuan kepada orang yang ingin berbuat maksiat.
  • Saat itu ia sama sekali tak punya biaya untuk pulang ke negerinya meskipun di negerinya ia adalah orang berada. 

Ayat Alquran Tentang Mustahiq Zakat


Ayat Alquran Tentang Mustahiq Zakat

Ayat alquran yang menerangkan mustahiq zakat adalah Surah At-Taubah ayat 60. Ayat mustahiq zakat ini menjelaskan tentang siapa saja yang berhak menerima zakat. Bunyi ayat tersebut antara lain.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya :

Sesungguhnya zakat itu hanya untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, orang-orang yang berhutang di jalan Allah, dan mereka yang sedang berada dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang telah diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Selain itu, ada juga dalil dan hadis yang membahas tentang golongan-golongan yang berhak menerima zakat, yaitu sebagai berikut.

1. Orang Fakir

Dari Ibnu ‘Amr R.A. berkata bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

اَ تَحِلُّ الصَّدَقََةُ لِغَنِيٍّ وَلاَ لِذِى مِرَّةٍ سَوِيٍّ

Artinya :

Zakat haram diberikan kepada orang kaya dan mereka yang masih kuat bekerja

Dari ‘Ubaidillah bin ‘Adi bin Al-Khiyar menuturkan bahwa ada dua orang yang menceritakan kepadanya bahwa mereka telah menghadap Rasulullah untuk meminta zakat kepada beliau, lantas beliau mengamati mereka dan mendapati bahwa mereka masih kuat. Kemudian beliau bersabda:

إِنْ شِئْتُمَا أَعْطَيْتُكُمَا وَلاَ حَظَّ فِيْهَا لِغَنِيٍّ وَ لاَ لِقَوِيٍّ مُكْتَسِبٍ

Artinya :

Bila kalian mau maka aku akan berikan zakat ke kalian, sayangnya tak ada zakat untuk orang kaya dan mereka yang masih kuat untuk bekerja.

2. Orang Miskin

Dari Abu Huraira RA, Rasulullah SAW pernah bersabda :

لَيْسَ الْمِسْكِيْنُ بِهَذَا الطَّوَافِ الَّذِي يَطُوْفُ عَلَى النَّاسِ, فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ, وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ, قَالُوْا فَمَا الْمِسْكِيْنُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اَلَّذِي لاَيَجِدُ غِنًى يُغْنِيْهِ, وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ, وَلاَ يَسْأَلُ النَّاسَ.

Artinya :

Orang miskin bukanlah mereka yang keliling minta-minta kepada manusia demi sesuap atau dua suap makanan dan satu atau dua kurma lalu pulang. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah “Jika demikian, siapakah yang dianggap sebagai orang miskin wahai ya Rasulullah?” Beliau menjawab bahwa orang miskin adalah orang yang tak punya sesuatu yang bisa mencukupi kebutuhannya. Tetapi tak ada yang tahu keadaannya tersebut sehingga ada yang mau memberinya sedekah dan ia juga tak minta-minta kepada manusia.

3. Amil Zakat

Amil zakat adalah mereka yang bertugas mengumpulkan dan menarik zakat, mereka juga berhak menerima sejumlah zakat atas pekerjaan yang telah mereka lakukan.

Namun amil zakat tak boleh berasal dari mereka yang berasal dari keluarga Nabi Muhammad SAW, dan diharamkan bagi mereka memakan sedekah.

Seperti yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari ‘Abdul Mutholib bin Rabi’ah bin Al-Harits bahwa ia dan Al-Fadhl bin Al-‘Abbas pergi menemui Rasulullah untuk meminta agar mereka berdua dijadikan amil zakat. Rasulullah kemudian bersabda:

إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَتَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلاَ ِلآلِ مُحَمَّدٍ, إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ.

Artinya :

Sesungguhnya zakat itu haram bagi Muhammad dan keluarga Muhammad, karena ia sebenarnya adalah kotoran manusia.

4. Mualaf (Orang-orang yang dilunakkan hatinya)

Ada beberapa alasan mengapa Rasulullah memberikan harta zakat kepada mualaf. Ada yang diberikan harta zakat agar mereka masuk Islam, sebagaimana Rasulullah memberikan Shafwan bi Umayyah harta hasil rampasan perang Hunain dan ikut berperang dalam kondisi masih musyrik.

Ia menceritakan bahwa Rasulullah tak henti-hentinya memberi harta rampasan perang hingga akhirnya beliau menjadi manusia yang paling ia cintai, padahal sebelumnya beliau adalah orang yang paling ia benci.

Dan ada juga yang sengaja diberikan harta zakat agar mereka semakin kuat keislaman dan hatinya dalam memeluk Islam, sebagaimana Rasulullah memberikan 100 ekor unta kepada sekelompok pemuka kaum Ath-Thulaga’ (orang kafir Quraisy yang tak diperangi saat penaklukan Makkah), lalu Rasulullah bersabda:

إِنِّي َلأُعْطِيَ الرَّجُلَ، وَغَيْرَهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ, خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ.

Artinya:

Sesungguhnya aku memberikan harta pada seseorang, padahal ada yang lain yang lebih aku cintai dari padanya, hanya saja aku takut jika Allah memasukkannya ke dalam neraka.

Dan ada juga diantara mereka yang diberi zakat dengan tujuan agar orang-orang yang seperti mereka ikut masuk dalam Islam.

Serta ada juga yang diberikan zakat harta dengan tujuan agar nantinya bisa mengumpulkan harta zakat dari orang-orang setelahnya atau untuk mencegah bahaya dari beberapa negeri terhadap kaum muslimin.

5. Budak

Yang dimaksud dengan budak disini ialah orang yang telah mengadakan perjanjian dengan tuannya untuk membayar sejumlah uang sebagai tebusan atas dirinya. Ini diriwayatkan oleh Abu Musa al-‘Asyari. Dan ini merupakan pendapat Imam Asy-Syafi’i juga Al-Laitsi berkata Ibnu ‘Abbas dan Al-Hasan “Boleh saja harta zakat digunakan sebagai tebusan untuk memerdekakan budak”. Dan ini adalah Mazhab dari Ahmad, Malik, dan Ishaq.

Jadi intinya tak mengapa jika harta zakat digunakan untuk membeli budak lalu memerdekakannya. Ada banyak hadits yang menjelaskan pahala orang-orang yang membebaskan budak.

Dan Allah akan membebaskan dari api neraka anggota badanmu sebagai ganjaran atas anggota badan budak yang kamu merdekakan.

6. Orang yang Berhutang

Orang yang berhutang ini ada beberapa jenis. Ada yang menanggung hutang orang lain dengan hartanya hingga habis, ada yang memang tak bisa melunasi hutangnya, dan ada juga yang mengalami kerugian karena kemaksiatan yang pernah dilakukan kemudian dia bertobat. Mereka-mereka inilah yang berhak untuk menerima zakat.

Nabi muhammad SAW Bersabda :

يَا قَبِيْصَةُ , إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَتَحِلُّ إِلاَّ ِلأَحَدِ ثَلاَثَةٍ: رَجُلٌ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَهَا ثُمَّ يُمْسِِكَ, وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اِجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ, حَتَّى يُصِيْبَ قِوَاماً مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ, وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُوْمَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ, فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ, حَتَّى يُصِيْبَ قِوَاماً مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ, فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبيْصَةُ ! سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا.

Artinya :

Wahai qabishah, sesungguhnya diharamkan seseorang meminta-minta selain dari tiga kriteria, yaitu orang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai hutang tersebut lunas. Orang yang hartanya habis karena ditimpa musibah, ia boleh meminta-minta hingga mendapatkan sandaran hidup. Dan orang yang ditimpa kesengsaraan hidup. Adapun selain ketiga golongan tersebut maka haram hukumnya dan mereka yang memakannya adalah memakan makanan haram.

7. Fisabilillah (Orang yang Berjuang di Jalan Allah)

Fisabilillah adalah mereka para pasukan perang yang tak punya hak di baitul mal. Termasuk juga orang yang berhaji.

Ada suatu kisah seorang istri yang ingin sekali berhaji bersama Rasulullah SAW. Namun suaminya tak punya harta untuk menghajikan istrinya tersebut.

Si istri menyuruh suaminya untuk menghajikan dirinya dengan mengorbankan seekor unta milik suaminya. Namun si suami menolak karena unta tersebut adalah unta yang digunakan untuk berjuang di jalan Allah.

Lalu si suami pergi menghadap ke Rasulullah dan menceritakan masalah ini. Lantas Rasulullah mengatakan bahwa hajikanlah istrimu dengan unta tersebut. Karena sesungguhnya jika kamu menghajikan istrimu dengan unta tersebut maka termasuk juga dalam fii sabilillah.

8. Ibnu Sabil

Ibnu Sabil merupakan musafir yang berada dalam suatu negeri dan tak punya sesuatu yang bisa membantunya dalam perjalanan.

Itulah alasan mengapa musafir diberikan harta zakat yang cukup untuk bisa digunakan kembali ke kampungnya meskipun ia memiliki sedikit harta.

Ini juga berlaku untuk mereka yang sedang melakukan perjalanan jauh dan tak punya apa pun bersamanya. Maka ia juga berhak untuk mendapatkan harta zakat yang kiranya bisa mencukupi sebagai bekal pulang pergi.

Rasulullah SAW bersabda :

لاَ تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ إِلاَّ خَمْسَةٍ: اَلْعَامِلُ عَلَيْهَا أَوْ رَجُلٌ اِشْتَرَاهَا بِمَالِهِ أَوْ غَارِمٌ اَوْ غَازٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ أَوْ مِسْكِيْنٌ تُصُدِّقَ عَلَيْهِ فَأَهْدَى مِنْهَا لِغَنِيٍّ.

Artinya :

Zakat itu haram diberikan kepada orang kaya kecuali lima sebab, yaitu amil zakat, orang yang membelinya dengan hartanya, orang yang berhutang, orang yang berperang di jalan Allah, dan orang miskin yang menerima zakat lalu menyedekahkannya ke orang kaya.

Baca Juga :

Orang yang Tak Berhak Menerima Zakat


Orang yang Tak Berhak Menerima Zakat

1. Orang yang kaya 

Orang kaya jelas tidak berhak menerima zakat karena mereka sudah memiliki harta yang cukup atau bahkan melebihi dari apa yang ia butuhkan. Bukannya menerima, justru orang kaya lebih dianjurkan untuk berzakat.

Tentunya akan sangat memalukan bila ada orang kaya yang mengambil harta zakat untuk dirinya sendiri. Karena pada dasarnya zakat itu diperuntukkan bagi orang yang berkekurangan atau miskin.

2. Orang yang masih memiliki kekuatan untuk bekerja

Zakat juga tidak berhak diberikan pada mereka yang miskin dan berkekurangan namun masih memiliki kekuatan untuk bekerja, fisik yang sehat walafiat, dan hanya diperbudak dengan rasa malas.

Orang seperti in tak baik jika terus diberi karena itu hanya akan membuat dirinya semakin bertambah malas dan terus berharap pada orang lain.

Dalam beberapa hadis juga melarang untuk memberikan harta zakat pada orang yang masih kuat bekerja. Mungkin itulah alasan dibalik hadis tersebut.

3. Orang yang wajib dinafkahi

Tidak diperbolehkan untuk memberikan zakat kepada orang-orang yang wajib kamu nafkahi atau yang berada di dalam tanggunganmu. Misalnya seperti orang tua, kakek, nenek, cucu, keturunan, dan sejenisnya.

Karena bila zakat diperbolehkan untuk diberikan pada orang yang wajib dinafkahi maka itu sama saja dengan mengurangi beban kewajiban untuk menafkahi mereka dan manfaatnya juga akan kembali pada dirimu sendiri. Sehingga seakan-akan kamu membayar zakat kepada dirimu sendiri.

4. Orang kafir yang tak bisa diharapkan keislamannya

Zakat tak diperbolehkan untuk diberi pada orang kafir yang keislamannya tidak bisa diharapkan dan bukan pula mualaf.

Sebab tujuan utama dari kewajiban zakat adalah memberikan rasa cukup pada orang fakir dan miskin di kalangan kaum muslimin serta mengokohkan hubungan harmonis diantara umat Islam.

Jadi untuk apa harta zakat ini diberikan pada mereka yang jelas-jelas kafir dan bukan mualaf? Tak ada gunanya bukan? Maka dari itu, orang kafir yang tidak bisa diharapkan keislamannya tidak berhak untuk menerima zakat.

5. Kerabat Rasulullah

Juga tak diperbolehkan bagi para kerabat Rasulullah untuk menerima harta zakat. Ini dilakukan karena sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap mereka.

Jadi haram hukumnya bagi kerabat Rasulullah untuk memakan harta zakat. Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW:

Harta zakat ini adalah kotoran jiwa dan harta manusia, diharamkan bagi Muhammad dan kerabatnya (mereka yang berasal dari keturunan Bani Hasyim).

6. Budak yang dimerdekakan oleh kerabat Rasulullah

Budak yang dimerdekakan atau mawali oleh kerabat Rasulullah juga tak diperkenankan untuk menerima harta zakat.

Ini karena mawali atau budak suatu kamu dianggap sebagai bagian dari kaum tersebut. Dan bisa dikatakan bahwa mawali dari kerabat Rasulullah termasuk bagian dari kaum tersebut. Dimana kaum kerabat Rasulullah sudah jelas-jelas dilarang untuk merima zakat.

7. Hamba sahaya atau budak

Zakat juga tidak diperbolehkan untuk diberikan pada hamba sahaya karena seorang budak atau hamba sahaya adalah harta bagi tuannya.

Jadi ketika budak tersebut diberi harta zakat maka sama saja kita memberi harta zakat kepada tuannya. Demikian juga dengan kebutuhannya yang sudah menjadi tanggung jawab tuannya.

Lain halnya dengan budak yang ingin dimerdekakan melalui pembayaran kepada tuannya. Dalam kasus seperti ini diperbolehkan seorang budak untuk menerima harta zakat.

Seorang budak yang berperan sebagai amil zakat juga diperbolehkan menerima harta zakat karena sebagai balasan atas pekerjaan yang ia lakukan. Namun tentu saja itu atas izin dari tuannya.

Apakah Anak Yatim Piatu Berhak Menerima Zakat?


Apakah Anak Yatim Piatu Berhak Menerima Zakat

Sebenarnya baik itu anak yatim dan yatim piatu tidak selamanya diperbolehkan menerima zakat. Sebab kategori dari anak yatim ini kadang berbeda-beda.

Ada yang kaya dan ada juga yang miskin. Zakat tidak boleh diberikan pada anak yatim yang berkecukupan atau kaya dan masih ada orang yang mampu menafkahinya.

Oh yah satu lagi, kita tak boleh memberikan zakat pada anak yatim yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan kita.

Boleh saja kita memberikannya harta namun itu lebih ke arah sedekah, jadi aturannya lebih dilonggarkan dalam hal memberi.

Tetapi apabila anak yatim ini termasuk dalam 8 asnaf atau golongan orang yang berhak menerima zakat maka boleh saja ia menerima harta zakat. Apakah ia termasuk fakir atau miskin.

Baca Juga :


Apakah Janda Berhak Menerima Zakat?


Apakah Janda Berhak Menerima Zakat

Status sebagai janda tak bisa menjamin bahwa seseorang berhak menerima zakat. Zakat tak berhak diberikan pada janda yang kebutuhan hidupnya sudah terpenuhi dan ada orang menanggung biaya hidupnya.

Janda yang berhak menerima zakat ialah janda yang tak mampu memenuhi kebutuhan ekonominya dan tak ada orang yang menanggung biaya hidupnya.

Sebenarnya bukan karena status jandanya ia berhak menerima zakat, tetapi lebih kepada fakir atau miskinnya dia.

Sebagian besar penyaluran zakat menurut NU lebih diprioritaskan pada janda-janda yang sudah tua karena mereka perlu mendapat bantuan khusus.

Sebab kehidupan ekonomi, dan sosial mereka jauh lebih sulit dibandingkan masyarakat pada umumnya.

Baca Juga :

Orang yang Berhak Menerima Zakat Fitrah


Orang yang Berhak Menerima Zakat Fitrah

Terkait masalah siapa saja orang yang berhak menerima zakat fitrah, disini beberapa ulama berselisih pendapat.

Pendapat Pertama :

Dalam surah At-Taubah ayat 60 dijelaskan bahwa yang berhak menerima zakat adalah delapan golongan yang kita bahas sebelumnya. Yaitu fakir, miskin, riqab, gharim, mualaf, fisabilillah, ibnu sabil, dan amil zakat.

Karena zakat fitrah juga termasuk zakat maka bisa dikatakan bahwa orang yang berhak menerima zakat fitrah ini adalah delapan golongan tersebut.

Pendapat Kedua :

Zakat fitrah tidak boleh diberikan kepada delapan golongan tersebut kecuali golongan orang fakir dan miskin.

Jadi zakat fitrah ini hanya untuk dua golongan saja. Ini menurut pendapat Malikiyah, Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Ibnul Qayyim.

Dalam suatu hadis juga ditegaskan bahwa fungsi utama zakat fitrah adalah untuk mencukupi kebutuhan orang miskin saat hari raya.

Alasan lain yang juga mendasari pendapat ini adalah karena kecilnya jumlah atau takaran harta yang dizakatkan.

Sebagian ulama juga berpendapat bahwa salah satu tujuan perintah diberikannya zakat fitrah pada orang miskin adalah untuk mencukupi kebutuhan orang miskin di hari saya agar mereka tak lagi dipusingkan untuk memikirkan kebutuhan makanan di hari tersebut sehingga mereka bisa ikut bersuka cita bersama dengan umat Islam lainnya.

Beberapa hadis juga menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya tak pernah membagikan zakat fitrah kepada golongan lain selain fakir dan miskin.

Kesimpulannya :

Dari kedua pendapat tersebut bisa kita simpulkan bahwa pemberian zakat fitrah diutamakan pada dua golongan yaitu fakir dan miskin. Dan apabila di suatu daerah tidak ada kedua golongan ini maka boleh saja memberikannya pada golongan yang lain.

Orang yang Berhak Menerima Zakat Mal


Orang yang Berhak Menerima Zakat Mal

Pada dasarnya zakat mal adalah zakat yang dikeluarkan oleh seorang individu karena harta yang ia miliki telah memenuhi syarat untuk dizakatkan.

Berbeda dengan zakat fitrah, penerima atau mustahik zakat mal mengikuti penjelasan dari surah At-Taubah ayat 60.

Syarat dan kriteria penerima zakat mal haruslah mereka yang termasuk dalam 8 golongan penerima zakat pada umumnya, sesuai urutannya yaitu fakir, miskin, amil zakat, mualaf, riqab, gharim, fisabilillah, dan ibnu sabil.

Orang yang Berhak Menerima Zakat Penghasilan


Orang yang Berhak Menerima Zakat Penghasilan

Zakat penghasilan atau yang disebut juga zakat profesi adalah zakat yang dibebankan kepada siapa saja yang memiliki penghasilan selain dari tambang, tani, ternak, dan dagang serta penghasilannya telah memenuhi syarat untuk dizakatkan.

Hampir sama dengan zakat mal, syarat penerima zakat penghasilan juga adalah mereka yang termasuk dalam 8 golongan  penerima zakat seperti yang dijelaskan dalam surah At-Taubah ayat 60.


Penutup

Demikianlah penjelasan terkait siapakah golongan orang yang berhak menerima zakat fitrah, zakat mal, dan zakat penghasilan (harta), semoga dengan membaca artikel ini bisa membuat Anda jadi lebih paham akan orang yang berhak menerima zakat dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar