Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Pengusaha Cina yang Sukses di Indonesia dari Bisnisnya

Pengusaha Cina yang Sukses di Indonesia

Para pengusaha cina yang sukses di Indonesia tentu adalah orang yang hebat karena dapat berhasil dengan bisnisnya meski bukan di negeri sendiri.

Masalah terkait modal usaha dan hal lainnya pasti pernah dan bahkan sudah jadi kudapan sehari-hari bagi pengusaha sukses cina.

Tetapi karena kegigihan dan keberaniannya, mereka justru bisa jadi kaya dari bisnis yang dirintisnya dari nol. Bahkan tak jarang mereka menyandang predikat pengusaha paling sukses di dunia.

Tak dapat dipungkiri bahwa memang kunci sukses orang cina dalam memulai usaha tak terlepas dari tradisinya dalam mengatur keuangan.

Tradisi ini sudah ditanamkan ke para keturunan mereka dengan harapan bahwa kelak keturunan tersebut bisa jadi pengusaha muda cina yang sukses.

Siapa sajakah pengusaha cina sukses di Indonesia, mari kita simak pembahasan pengusaha china berikut ini.


Pengusaha Cina yang Sukses di Indonesia

  1. Eka Tjipta Wijaya
  2. Siapa yang tak kenal dengan bos Sinarmas Eka Tjipta Wijaya. Orang terkaya kedua di Indonesia yang lahir pada tahun 1923 di Negeri Tirai Bambu dan hanya lulusan SD. Namun siapa sangka bahwa kekayaannya sudah menyentuh angka Rp 122 triliun.

    Pria dengan nama Tionghoa Oei Ek Tjhong ini pindah ke Indonesia, atau lebih tepatnya Makassar pada tahun 1932.

    Saat itu Eka terpaksa tak melanjutkan studinya karena terkendala masalah biaya. Dengan berat hati, orang tuanya pun harus meminjam uang dengan bunga sangat tinggi demi bertahan hidup.

    Ketika masih muda, Eka mulai belajar berbisnis. Ia membeli gula dan biskuit secara grosir lalu mencoba menjajakannya ke pelanggan. Tanpa disangka ternyata bisnisnya berjalan mulus dari tahun ke tahun.

    Hingga pada era 1980-an, ia akhirnya berhasil membeli kebun kelapa sawit seluas 10 hektare di Riau. Lengkap dengan mesin dan pabriknya. Setelah bisnis tersebut sukses dan berkembang pesat, ia mencoba melakukan ekspansi ke sektor bisnis lainnya.

    Sampai saat ini Sinarmas tak hanya jadi perusahaan yang tersohor di Indonesia saja, tetapi juga merambah ke pasar internasional dan punya proyek di Shenyang, China, dan Singapura.


  3. Sudono Salim
  4. Mendiang Sudono Salim atau yang lebih dikenal dengan nama Liem Sioe Liong merupakan ayah dari orang terkaya keempat di Indonesia, yakni bos Salim Group, Anthoni Salim.

    Pria kelahiran 1916 di Fukien, Cina ini memutuskan berlabuh ke Kudus karena ingin bergabung bersama kakaknya Liem Hoe Sie.

    Sebelum menjadi pengusaha, di Cina ia hanyalah seorang anak petani. Tetapi ketika bergabung bersama kakak dan pamannya di Kudus, ia mulai belajar berbisnis minyak tanah.

    Dari minyak tanah, ia kemudian mencoba melebarkan bisnisnya dengan memasok cengkeh ke perusahaan rokok setempat.

    Bisnisnya pun kian berkembang semenjak ia berhasil menjalin hubungan yang harmonis dengan pemerintah Indonesia pada tahun 1945.

    Tahun 1950, pengembangan bisnis Sudono Salim sudah merambah ke sektor perbankan dengan mendirikan Bank Windu Kencana dan Bank Central Asia (BCA), tetapi kini sahamnya sudah dikuasai keluarga Hartono.

    Bisa dibilang Sudono Salim sudah jadi taipan atau konglomerat pada tahun 1966.

    Bahkan saat ini bisnis Salim Group sudah merambah ke sektor otomotif, barang konsumsi, dan manufaktur.


  5. Tahir
  6. Dilahirkan pada tahun 1952 silam dengan nama Ang Tjoen Ming, pendiri Mayapada Group ini dulunya hidup dalam kemiskinan.

    Ayah dan ibunya hanya berprofesi sebagai pembuat becak. Dikarenakan ayahnya wafat saat ia baru lulus SMA, cita-citanya untuk jadi dokter terpaksa kandas di tengah jalan.

    Demi menyambung hidup, Tahir pun harus tetap melanjutkan bisnis becak sang ayah. Tak lama berselang ternyata Tahir mendapat beasiswa sekolah bisnis di Singapura. Tentu ia langsung mengambil kesempatan emas itu.

    Sembari kuliah ia berusaha mencari produk pakaian perempuan dan sepeda dari Malaysia untuk dipasarkan ke Indonesia.

    Disitulah awal mula munculnya naluri bisnis impor Tahir. Bahkan di usianya yang ke-35 ia kembali ke Jepang untuk menuntut ilmu.

    Diawali dari bisnis pakaian, selanjutnya ia memberanikan diri untuk terjun ke dunia perbankan dengan mendirikan Mayapada Group pada 1986 silam. Ia mengembangkan bisnisnya sampai ke bidang dealer mobil, garmen, dan kesehatan.

    Sampai pada tahun 1990, bisnis perbankannya terus maju dan bahkan dirinya sempat menduduki predikat orang terkaya di Indonesia urutan ke-8.


  7. William Soeryadjaya
  8. Pria kelahiran 20 Desember 1922 di Majalengka ini memiliki nama Tionghoa Tjia Kian Liong. Ia adalah seorang pendiri perusahaan otomotif PT Astra International yang tutup usia di tanggal 2 April 2010.

    Beliau sudah jadi yatim piatu semenjak berusia 12 tahun. Ketika berusia 19 tahun ia terpaksa putus sekolah dan bekerja sebagai pedagang kertas di Cirebon sekaligus benang tenun di Majalaya. Namun tak lama berselang ia beralih ke usaha penjualan hasil bumi.

    Bisa dibilang motivasinya dalam berdagang sangat sederhana, yaitu demi membantu saudara-saudaranya, cuma itu. Namun siapa sangka dari hasil penjualan tersebut ia berhasil melanjutkan studinya ke Belanda.

    Saat kembali ke tanah air ia harus mendirikan industri penyamakan kulit. Lalu tiga tahun kemudian mendirikan perusahaan ekspor impor yang bangkrut karena ditipu.

    Bersama dengan adik dan kawannya, William mendirikan PT Astra International yang bergerak dalam sektor minuman ringan merek Prem Club. Tetapi saat ini sektornya sudah merambah ke otomotif, komoditas, alat berat, dan sebagainya.

    Truk Chevrolet yang dipasok Astra sangat laris manis layaknya kacang goreng, hal ini terus berlanjut hingga dekade 1960-an.

    Saat ini Astra sudah berani merakit sendiri Truk Chevroletnya dan sekaligus sebagai pemasok Toyota, Daihatsu, mesin Komatsu, dan Xerox.


  9. Liem Seeng Tee
  10. Beberapa diantara kamu mungkin cukup familiar dengan nama ini. Yah, ia adalah pendiri salah satu perusahaan rokok terkenal di Indonesia, yakni HM Sampoerna.

    Bahkan cucunya sendiri, Putera Sampoerna sudah tercatat sebagai orang terkaya urutan 17 di Indonesia versi majalah Forbes.

    Mulanya Liem hanyalah seorang imigran miskin dari Fujian, Cina yang pindah ke Indonesia pada tahun 1858 bersama ayah dan kakaknya.

    Sayangnya sang ayah meninggal setelah sampai di Indonesia. Ia terpaksa dititipkan ke salah satu keluarga keturunan Tionghoa di Bojonegoro.

    Liem pada dasarnya sudah terbiasa hidup mandiri. Ia bekerja menjajakan makanan ringan di kereta dengan cara melompat masuk ke gerbong ketika pagi-pagi buta.

    Bahkan menurut kabar yang beredar, ia pernah berjualan tanpa istirahat selama 18 bulan. Saat itulah ia belajar bagaimana meracik tembakau.

    Ia memutuskan bekerja di pabrik pelintingan rokok di Lamongan setelah menikahi wanita idamannya Siem Tjiang Nio.

    Tak lama berselang ia pun berhenti lalu memulai membangun bisnis warung kecil di Surabaya. Selain makanan, ia juga menjual rokok hasil lintingannya sendiri. Meskipun usaha ini sempat maju, tetapi akhirnya hancur karena tempat tinggal mereka kebakaran.

    Beberapa waktu kemudian Liem mendapat tawaran untuk membeli pabrik tembakau yang sudah mau bangkrut dengan harga murah. Ia langsung mengambil peluang tersebut karena mengingat dirinya pandai melinting rokok.

    Tanpa disangka-sangka ternyata usaha tersebut berkembang pesat. Salah satu rokok yang diproduksi yaitu Dji Sam Soe. Bahkan di masa menjelang pendudukan Jepang, perusahaan ini telah memiliki 1300 karyawan.

    Sampai pada tahun 1956 Lim pun tutup usia dan mewariskan perusahaan tersebut ke putrinya, yaitu Hwee dan Sien.


Penutup

Dari kisah pengusaha cina yang sukses di Indonesia ini kita bisa belajar bahwa memang tak ada yang mustahil dalam berbisnis. Apabila kita mau terus bekerja keras, impian sebesar apapun akan bisa terwujud. 

Entah itu orang asing, cuma lulusan SD, atau bahkan orang miskin sekalipun tetap bisa jadi orang sukses di masa depan. Teruslah berusaha dan kejar mimpimu wahai calon orang sukses!


Jangan Lewatkan:

Berlangganan via Email