Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

6 Pengusaha Indonesia Sukses di Jepang Berkat Kerja Kerasnya

Pengusaha Indonesia Sukses di Jepang

Menjadi pengusaha Indonesia sukses di Jepang adalah sesuatu yang luar biasa. Hal ini karena membuka usaha dan menjadi entrepreneur di negara asing itu sulit.

Apalagi jika di negara maju sekelas Jepang yang terkenal akan budaya kerja dan aturan ketatnya. Pasti butuh usaha dan perjuangan yang keras untuk mewujudkannya.

Namun siapa sangka ada yang mampu mewujudkan mimpinya menjadi seorang pengusaha Indonesia yang sukses di Jepang.

Siapa sajakah orang-orang hebat yang jadi pengusaha di Jepang tersebut? Mari kita simak penjelasan biografi singkatnya berikut ini.


Pengusaha Indonesia Sukses di Jepang

  1. Mahmudi Fukumoto
  2. Mahmudi Fukumoto

    Mahmudi Fukumoto ialah seorang pengusaha Indonesia sukses di Jepang asal Tulung Agung, Jawa Barat yang cuma lulusan SMA.

    Awal mula Mahmudi pindah ke Jepang adalah ketika menikah dengan Noriko Fukumoto, teman guru les bahasa Jepangnya. Ia memutuskan pindah ke Jepang dengan niat mencari peruntungan baru.

    Disana, ia tinggal di rumah mertuanya. Karena merasa merepotkan mertuanya, memutuskan untuk bekerja. Pokoknya segala macam pekerjaan dilakoninya guna menyambung hidup. Mulai dari cleaning service, petugas kebersihan taman, dan kuli bangunan.

    Gaji yang didapatkan kebanyakan ditabung untuk masa depannya dan keluarganya kelak.

    Meskipun pekerjaannya lumayan berat, namun tak ada sama sekali terbersit di dalam hatinya untuk mundur dan kembali ke negara asal. Sebab menurutnya perjuangan yang ia lakukan belum berakhir.

    Layaknya sudah ditakdirkan, Mahmudi dipertemukan dengan seorang mantan bos besar saat menjadi kuli.

    Mantan bos besar tersebut juga terpaksa menjadi kuli bangunan karena perusahaan yang dipimpinnya bangkrut.

    Lama berteman dengannya, Mahmudi jadi terbersit keinginan untuk membuat perusahaannya sendiri bermodalkan uang yang selama ini ia tabung dari pekerjaan serabutannya.

    Tetapi karena keterbatasan relasi, Mahmudi justru mengajak mantan bos tadi jadi partner kerjanya.

    Setelah lama berselang, Kini Mahmudi telah menjadi CEO perusahaan subkontraktor yang cukup terkemuka di Jepang yaitu Keishin Co Ltd.

    Meskipun telah jadi pengusaha sukses di Jepang, ia tetap bersikukuh enggan berganti kewarganegaraan. Padahal ia telah menambahkan nama Fukumoto sebagai nama belakangnya.

    Fukumoto sendiri ialah nama belakang keluarga dari istrinya. Saat itu mertua Mahmudi merasa sangat terharu sehingga juga ikut memeluk islam.


  3. Sahat Doras Situmorang
  4. Sahat Doras Situmorang

    Kamu mungkin pernah mendengar istilah pulang malu tak pulang rindu. Percaya atau tidak itulah yang dilakukan Sahat Doras Situmorang dalam memulai usahanya di negeri sakura.

    Karena kepintaran dan kesungguhannya dalam mengeksekusi peluang membuatnya jadi salah satu orang Indonesia yang sukses jadi pengusaha di Hokkaido, Jepang.

    Bermodalkan ketekunan yang dimiliki, Sahat kini telah menguasai bisnis transportasi carteran bagi orang Indonesia yang ingin berkunjung ke Jepang. Bahkan ia juga punya usaha ekspor ban bekas ke sejumlah negara seperti Rusia, Dubai, dan Afrika.

    Sahat merupakan pemuda batak bermarga Situmorang yang lahir di Jakarta dan besar di Prapat, Danau Toba, Sumatera Utara.

    Setelah tamat SMA, Sahat memutuskan merantau ke Bali untuk mencari pekerjaan. Kurang lebih satu setengah tahun di Bali, ia bertemu wanita asal Hokkaido yang kemudian jadi istrinya.

    Diakhir tahun 2002 ia sudah berada di Sapporo, Hokkaido, Jepang. Dari situlah awal mula kariernya berkembang.

    Ayah dua putra tersebut memulai dua tahun pertamanya dengan bekerja apapun yang bisa dilakukan. Mulai dari tukang pijat, satpam, menurunkan barang dari kontainer, dan sebagainya.

    Culture shock pun pernah dialaminya saat jadi pekerja di Jepang karena terlalu terbiasa dengan budaya kerja yang santai. Berbeda jauh dengan disana yang benar-benar disiplin waktu.

    Karena merasa tak nyaman dan sempat mendapat perlakuan tak menyenangkan, Sahat pun memutuskan memulai usaha sendiri dengan mengumpulkan ban bekas untuk diekspor ke Rusia.

    Saat itu ia bekerja untuk temannya. Jadi begitu dapat barang ia kasih ke temannya lalu mendapat upah.

    Cuma bermodalkan sepeda dan uang 10 ribu yen pemberian temannya, ia menyusuri rumah ke rumah dan pom bensin untuk mencari ban bekas.

    Pihak keluarga pernah menentang pekerjaan Sahat karena dianggap layaknya pemulung. Sahat disarankan untuk bekerja sebagai karyawan karena tak gampang memulai usaha di Jepang.

    Ada satu hal yang benar-benar memicu semangatnya dalam berwirausaha, yaitu kesadaran bahwa orang Indonesia juga punya potensi untuk bersaing di rana internasional.

    Apalagi orang Indonesia lebih multi talent dan kreatif dibandingkan orang Jepang yang lebih terfokus mengerjakan satu hal.

    Dengan bermodalkan keuntungan dari usahanya itu, ia mulai membeli aset berupa mobil untuk dikembangkan.

    Baru sekitar tahun 2015 ia mulai melihat prospek dari banyaknya orang Indonesia yang berkunjung ke Jepang. Baik itu wisatawan maupun pelajar.

    Peluang itu ia manfaatkan sebaik mungkin untuk membuka bisnsi transportasi. Apalagi saat itu Jepang sedang mempromosikan pariwisatanya ke luar.

    Berkat kerja kerasnya dalam memulai usaha dari nol bahkan minus, sampai saat artikel ini dibuat ia sudah memiliki lima kendaraan dan delapan pekerja sebagai translator antara driver dan tamu. Bahkan pejabat negara seperti Sandiaga Uno juga pernah jadi pelanggannya.

    Dengan hasil usahanya, ia berhasil membangun rumah mewah di daerah Shiroishi dengan membawa ibu mertuanya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk mempertahankan budaya Indonesia yang tidak membawa orang tuanya ke panti jompo. Berbeda dari orang Jepang yang melakukan sebaliknya.

    Untuk kedepannya, Sahat berkeinginan untuk mengabdi di negara sendiri. Entah itu di umum 45 atau 50 tahun. Pokoknya ia siap berbagi pengalaman dan apa yang dipelajarinya di negeri matahari terbit itu.

    Ada peribahasa Jepang yang sangat dipegang teguh oleh Sahat. Kurang lebih jika diterjemahkan artinya “Tujuh kali jatuh, delapan kali bangkit”.

    Menurut Sahat, menjadi sukses itu butuh waktu dan tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak suka duka yang perlu dilewati dan terseok-seok. Selama kamu yakin, berusaha dan berdoa. Niscaya segala masalah bisa teratasi.


  5. Erdina Oudang
  6. Erdina Oudang

    Bila sebelumnya yang dibahas adalah pengusaha Indonesia yang sukses di Jepang dalam konteks pria maka kali ini kita akan membahas wanita, yaitu Erdina Oudang.

    Wanita ini adalah pengusaha sukses asal Indonesia yang sukses dengan bisnisnya dalam bidang perusahaan konsultasi dan restoran di Tokyo, Jepang.

    Sebelum bisa meraih kesuksesannya, Erdina pernah bersekolah di Swiss dan menghabiskan masa mudanya di Paris selama sepuluh tahun. Ia juga bekerja di bank Singapura selama tujuh tahun.

    Saat di Singapura inilah ia mengenal sekolah bisnis asal Tokyo bernama Globis dari sebuah forum MBA yang tengah diadakan di sana.

    Tepat pada tahun 2012, Erdina memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan memulai petualangan barunya di jantung kota tokyo.

    Bergabungnya Erdina di sekolah Globis membuatnya menyadari bahwa sekolah tersebut memiliki apa yang ia butuhkan untuk meraih mimpinya.

    Dari sana ia mulai belajar dengan orang-orang yang memang profesional dalam bidang bisnis sambil membahas isu yang berkaitan tentangnya secara terperinci dari A sampai Z.

    Setahun lulus dari sekolah bisnisnya, Erdina mulai meluncurkan bisnis pertamanya yaitu Unlock Inc. Yaitu perusahaan konsultan yang namanya diharapkan bisa jadi kunci keberhasilan dan jembatan orang Indonesia dalam komunikasi antar budaya serta praktik bisnis Jepang. Unlock memiliki cabang di Tokyo dan Jakarta.

    Tak cukup sampai disana, Edina bersama mitra bisnisnya mendiskusikan untuk memperluas bisnis yang ada dengan membuka restoran yang menyediakan makanan khas Indonesia bernama Angkasa.

    Restoran ini berlokasikan di Ebis, Tokyo dan baru mulai dibuka pada Maret 2016 serta cukup terkenal dikalangan selebriti Jepang.


  7. Yoseph Simarmata
  8. Yoseph Simarmata

    Sama sekali tak pernah terbayangkan di benar Yoseph Simarmata untuk menjadi orang sukses seperti sekarang ini. Padahal di tahun 2018 di Medan ia sempat putus asa karena harus berhenti kuliah.

    Saat ini ia telah sukses menjadi pengusaha media dan pemilik perusahaan digital bernama YRS Media yang kini masih terus berkembang dan punya banyak karyawan.

    Kesuksesannya berawal dari keikutsertaannya dalam program magang di IM Japan, merupakan program yang digagas oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans).

    Awalnya ia mendapatkan info magang ini dari tetangganya dan memutuskan untuk ikut seleksi. Atas semangat, dukungan orang tua, dan restu Tuhan, ia berhasil lolos dalam satu seleksi saja.

    Ia mengikuti pelatihan terpusat selama kurang lebih empat bulan sebelum diberangkatkan langsung ke Jepang pada tahun 2019.

    Penghasilannya selama 1,5 tahun saat itu digunakan untuk membangun bisnis YRS Media di Indonesia.

    Yoseph Simarmata memutuskan membangun bisnis digital karena menurutnya perkembangan dunia digital itu kian pesat.

    Di tahun 2014 Yoseph bermain blogger dan bersyukur karena mampu mendapatkan penghasilan dari Google Adsense.

    Bahkan ia pernah menjuarai lomba blogger tingkat kota dan provinsi yang saat itu diadakan Kemendikbud dalam ajang Ki Hajar Dewantara. Jadi wajarlah bila keputusannya mengambil jalan pebisnis di dunia digital tak keliru.

    Pasang surutnya dunia bisnis sudah sering dirasakan Yoseph, tetapi karena tekadnya yang kuat ia mampu tetap mempertahankan bisnisnya.

    Hanya dari bisnis YRS Media ia mampu meraup keuntungan hingga puluhan juta per bulannya dan menjadi salah satu pebisnis muda yang cuma lulusan SMA.


  9. Asriyadi Chahyadi
  10. Asriyadi Chahyadi

    Asriyadi Chahyadi juga merupakan salah satu mantan pekerja magang di Jepang. Karena kerja kerasnya ia telah memiliki perusahaan di Jepang yang bahkan produknya banyak digunakan di pabrik-pabrik Jepang.

    Asriyadi mengaku bahwa saat menjadi pekerja di Jepang ia terus belajar tentang PVC siang dan malam cuma untuk meningkatkan skillnya. Alhasil kini produknya telah banyak dipakai di perusahaan-perusahaan Jepang.

    Dari yang awalnya Cuma pekerja biasa, kini menjadi pemilik perusahaan yang sebagian karyawannya adalah orang Jepang.

    Demi bisa mencapai impian, kita wajib bekerja dan belajar sekuat tenaga demi bisa mencapainya. Begitulah nasihat dari Asriyadi Chahyadi.


  11. Rustono
  12. Rustono

    Satu lagi pengusaha Indonesia sukses di Jepang, yaitu Rustono. Pria kelahiran 3 Oktober 1968 ini sebelumnya bekerja di Hotel Sahid, Indonesia.

    Awal mula kesuksesannya adalah ketika ia bertemu dengan turis asal Jepang pada tahun 1995 yang tidak lain adalah istrinya sekarang.

    Ia baru membulatkan tekad untuk jadi pengusaha dan pindah ke Jepang setelah menikahi Kazumoto pada tahun 1997.

    Saat pertama kali di Jepang, ia tak langsung jadi pengusaha. Awalnya ia bekerja di beberapa perusahaan guna mengumpulkan modal usaha.

    Sembari bekerja, ia terus belajar lebih lanjut tentang kuliner khas Indonesia dengan bahan dasar kedelai yaitu tempe.

    Rustono mengaku bahwa ia sudah sering menjumpai makanan olahan kedelai di Jepang namun belum pernah menemukan tempe.

    Makanan yang sangat familiar di lidah orang Jawa ini menurutnya adalah peluang yang besar. Setelah empat bulan mencoba membuat tempe dengan bermodalkan informasi di Internet, ia terus mengalami kegagalan.

    Dengan tekad yang bulat akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Jawa dan mendatangi kurang lebih 60 pengusaha tempe di Semarang hingga Yogyakarta untuk belajar. Semua poin penting yang disampaikan pengusaha tersebut ia catat dan ingat baik-baik.

    Setelah dirasa ilmu yang didapatkan cukup, ia kembali ke Jepang untuk merealisasikannya. Namun kesulitan paling berat yang dihadapi adalah izin produksi.

    Apalagi Jepang termasuk negara yang sangat memerhatikan kehigienisan dalam produksi makanannya.

    Setelah mengantongi izin, ia lalu memproduksi tempe pertamanya lalu memasarkan dengan teknik marketing sederhana, yaitu door to door.

    Saat itu usahanya belum menunjukkan hasil yang berarti. Ia mendapati banyak respon penolakan dari warga Jepang karena memang tempe adalah makanan baru di sana.

    Tak putus asa sampai disitu, ia lalu membeli peta negara Jepang lalu menentukan titik-titik mana saja yang akan jadi target penyaluran tempenya.

    Hingga pada tahun 2000 ia berhasil mendirikan pabrik tempenya di otsu, Shiga bersama istrinya. Pabrik kecil tersebut hanya berupa rumah sederhana dengan dua lantai.

    Sehari-hari ia menjajakan tempenya dengan menarik gerobak ditemani istrinya. Bahkan ketika musim dingin melanda pun ia tetap bersikeras berjualan.

    Beberapa orang yang melihatnya menasihati agar menghentikan aktivitas berjualannya karena dianggap berbahaya.

    Rustono justru menjawab dengan tegas bahwa ia sedang membangun mimpinya. Ternyata orang yang menanyainya tersebut adalah seorang wartawan dan tertarik meliput Rustono.

    Akhirnya ia diwawancarai sempat jadi bahan perbincangan. Dari situlah tempa jadi dikenal masyarakat Jepang dan omzet Rustono pun melonjak.


Penutup

Itulah beberapa kisah pengusaha Indonesia sukses di Jepang. Semoga bisa jadi bahan pencerahan buatmu untuk lebih berani dalam memulai bisnis meski berada di negeri orang maupun negeri sendiri.


Jangan Lewatkan: