Skip to main content

6 Kisah Singkat Tokoh Wirausahawan di Bidang Kerajinan yang Sukses di Indonesia

Kisah Singkat Tokoh Wirausahawan di Bidang Kerajinan yang Sukses di Indonesia

Hidupcu - Tahukah kamu bahwa ada beberapa tokoh wirausahawan di bidang kerajinan yang sukses meniti karirnya meski hanya bermodalkan barang-barang bekas yang didaur ulang jadi sesuatu yang bernilai jual. Bahkan tokoh wirausahawan di bidang kerajinan yang sukses ini sampai bisa meraup omset hingga 12 milyar pertahun.

Dalam hal pemasaran, tokoh wirausahawan di bidang kerajinan yang sukses ini tak hanya memasarkan produknya di Indonesia. Tetapi juga mengekspor ke berbagai negara tetangga dan negara-negara eropa.

Berwirausaha di bidang kerajinan terkadang memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan usaha lainnya. Dalam bisnis ini dibutuhkan kreativitas dan jiwa seni yang tinggi. Sangat cocok untuk Anda yang memang memiliki passion seni.

Sosok wirausahawan yang sukses dalam bidang kerajinan adalah mereka yang pandai melihat peluang bisnis di sekitar mereka.

Mungkin bagi kita kayu dan botol bekas itu hanyalah sebuah sampah. Tetapi di tangan mereka sampah itu bisa menjadi karya indah yang harganya cukup mahal bila dipasarkan.

Mau tahu siapa saja pengusaha di bidang kerajinan yang sukses itu? Simak baik-baik penjelasan lengkapnya berikut ini.

1. Eni Aryani : Dari Kaleng Bekas Menjadi Produk Ratusan Juta Hingga Tembus Pasar Australia.


Tokoh Wirausahawan di Bidang Kerajinan sukses

Bagi kita mungkin sampah adalah sesuatu yang sama sekali tidak berguna. Namun untuk Eni Aryani sampah justru jadi sumber penghasilan tambahan yang cukup besar.

Dengan bermodalkan kaleng dan kayu bekas, Eni bisa menghasilkan omset sampai ratusan juta perbulannya.

Ia sangat terampil menyulap sampah yang tak berguna menjadi kerajinan tangan yang bernilai jual. Karyanya memiliki ciri khas tersendiri pada motif dan desainnya yang membedakan dari produk kerajinan lain pada umumnya.

Wanita kelahiran Yogyakarta, 22 Desember 1979 ini membuat lebih dari 20 macam varian produk. Diantaranya yaitu guci stempel, kaleng krupuk, vas bunga, tenong, ceret angkringan, tempat kue, ember, pensil, siraman bunga, dan barang-barang keperluan rumah tangga lainnya.

Walaupun hanya dari kaleng dan kayu bekas, barang yang dibuat Eni ternyata dijual dengan harga yang cukup mahal. Yaitu sekitar ratusan ribu sampai jutaan rupiah.

Salah satu alasan mengapa harganya cukup mahal karena kerajinan itu dibuat sepenuhnya dengan tangan (handmade).

kisah singkat wirausahawan sukses di bidang kerajinan

Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 200 ribu sampai Rp 1,2 juta per unitnya. Barang kerajinan yang mahal biasanya berupa hiasan atau pajangan yang dibuat custom.

Bisnis Wastraloka ini dirintis oleh Eni Aryani sejak tahun 2014.

Konon pada saat memulai bisnis, Eni hanya menggunakan modal sebesar Rp 5 juta. Sebagian besar hanya digunakan untuk membeli bahan baku berupa cat akrilik dan barang bekas.

Selama berjalan satu tahun usahanya terus mengalami perkembangan. Permintaan akan barang kerajinan kian membludak setelah Eni memasarkan produknya secara online.

Dengan banyaknya permintaan maka tak heran jika Eni bisa meraup omset sampai ratusan juta perbulannya.

Singkat cerita produk wastraloka kian terkenal. Terlebih lagi selama setahun menjalankan bisnis ini atau lebih tepatnya pada tahun 2015, Eni mengikuti ajang pameran kerajinan tangan terbesar di Indonesia yaitu Inacraft.

Eni merasa sangat beruntung mengikuti ajang tersebut karena dengan mengikuti Inacraft ia bisa memasarkan produk kerajinan tangannya pada jangkauan yang lebih luas.

Setelah 2 tahun menggeluti bisnisnya wastraloka dengan omset yang cukup besar, Eni mulai berpikir untuk fokus menggarap bisnisnya.

Ia yang bekerja sebagai karyawan swasta pada suatu perusahaan ingin mengundurkan diri (resign) dari pekerjaannya.

Sementara untuk lokasi bisnis wastraloka, Eni memiliki tempat workhshop kerajinan tangan di Yogyakarta. Dan untuk pemasarannya wastraloka memiliki galeri pemasaran di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Untuk pembelinya sendiri tidak hanya dari kalangan perorangan atau individu, tetapi juga dari kalangan korporasi besar seperti restoran dan hotel. Bahkan sampai di ekspor ke Jepang dan Australia.

Dalam proses produksinya, Eni dibantu oleh 8 orang pegawai. Namun jika orderan sedang banyak-banyaknya Eni juga mempekerjakan 5 freelancer.

Untuk pengerajin kalengnya ada 3 orang dan dibantu 2 orang freelance. Sementara pelukisnya ada 5 orang dan dibantu 2 orang freelance.

Baca Juga : 9 Solusi Modal Usaha Bagi Anda Yang Bingung Mencari Sumber Modal


2. Diah Rahmalita: Bisnis Piring dan Gelas Bekas yang Bernilai Jutaan Rupiah.


kisah wirausahawan sukses di bidang kerajinan tekstil

Jika Anda memiliki barang bekas piring, gelas, dan botol beling di rumah maka Anda patut meniru kreativitas mbak Diah Rahmalita (47).

Di tangan mbak Diah barang bekas yang berupa piring, gelas, dan botol beling adalah sesuatu yang bisa dikreasikan menjadi barang bernilai jual tinggi.

Diah memulai bisnis Decoupage-nya pada tahun 2007. Yang awalnya membuat decoupage hanya sebagai side job, lalu berkembang menjadi sebuah bisnis yang besar.

Decoupage pada umumnya adalas seni menempelkan kertas tisu dan dilukis dengan menggunakan cat.

Bisnis yang ditekuni Diah dengan brand Lita Art pada awalnya hanya menggunakan modal sekitar Rp 1 juta untuk membeli cat dan media.

Sementara sisanya hanya menggunakan barang bekas berupa gelas, piring, dan botol beling.

Diah bisa menjalani bisnis decoupage ini karena hobi semata. Ia sama sekali tak memiliki latar belakang seni. Bahkan gelar sarjana yang dimilikinya pun justru diraih dari Jurusan Ekonomi.

Walaupun awalnya Diah sempat ragu menekuni bisnisnya, tetapi pada akhirnya ia memilih untuk terjun lebih dalam .

Berangkat dari hobinya yang senang melukis maka ia pun mencoba membuat suatu produk yang bernilai jual. Ia memoles barang-barang bekas menjadi suatu kerajinan yang cantik dan menarik untuk dijadikan pajangan.

Setelah 4 tahun menjalani bisnis decoupage, ia juga membuat karya seni lukis kaca. Nama usahanya itu dikenal dengan brand Lita Art.

Pada tahun 2011, ia memprediksi bahwa Lita Art akan menjangkau pasar yang luas.

Maka untuk mempertahankan bisnisnya itu, ia rela resign dari pekerjaannya sebagai karyawan dari salah satu perusahaan swasta.

Masalah mulai muncul ketika Diah fokus menggarap bisnisnya. Diah kesulitan memasarkan produknya karena memang ia belum memiliki pasar yang tetap.

Ia bingung kemana produknya harus dipasarkan dan tidak ada juga yang mengarahkan.

Yang ada dalam benaknya ketika membuat kerajinan adalah bagaimana ia bisa membuat karya lalu ditawarkan ke orang. Kalau laku yah alhamdulillah kalau nggak laku yah jadi koleksi pribadi ajah.

Semuanya berubah ketika karya Diah mulai dilirik oleh Pemerintah Daerah.

Mereka beranggapan bahwa keahlian Diah yang bisa menyulap barang bekas menjadi hiasan dan pajangan yang bernilai jual adalah sesuatu yang unik dan kreatif.

Akhirnya Diah mulai mendapat bantuan promosi gratis dari Dinas kota yaitu Disperindag, Dinas Koperasi, dan Dinas Pariwisata sehingga Diah bisa keliling Indonesia dan bahkan sampai ke beberapa negara untuk mengikuti pameran.

pengusaha sukses di bidang kerajinan tangan singkat

Diah mengaku memiliki beberapa pelanggan dari luar seperti negara Asia dan Eropa. Kalau dari Asia ada Thailand, Malaysia, India, Brunei, dan China. Sedangkan dari Eropa ada Swiss, Kroasia, Turki, Italia, dan Bulgaria.

Produk decoupage-nya dibanderol dengan harga mulai dari Rp 20 ribu sampai jutaan rupiah. Produknya yang paling mahal adalah decoupage yang dibuat dari botol beling besar. Harganya mencapai Rp 1,5 juta rupiah.

Saat ini omset yang diraup Diah perbulannya sekitar 10 sampai 20 juta. Bahkan jika ikut pameran bisa lebih dari itu.

Baca Juga : Membongkar 10 Tips Bagaimana Melatih Pola Pikir Out Of The Box (Di Luar Kotak)


3. Made Sutamaya : Pengepul Sampah Kayu Menjadi Pengusaha Beromset Rp 300 Juta Per Bulan.


tokoh wirausahawan di bidang kerajinan yang sukses di bali

Sampah kayu terkadang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Padahal dengan hanya memberikan sentuhan seni dan kreativitas maka sampah itu bisa jadi produk yang bernilai jual.

Hal itulah yang dilakukan oleh salah satu tokoh wirausahawan di bidang kerajinan yang sukses di Bali, Made Sutamaya (49).

Dalam usahanya yang bernama Kioski Gallery, Ia berhasil mengolah tumpukan sampah kayu bekas yang berserakan di pinggir pantai menjadi desain interior bernilai jutaan rupiah.

Karyanya cukup mampu menggemparkan jagad bisnis kerajinan yang ada di Indonesia. Ia juga bisa bersaing dengan para pengusaha yang lebih berpengalaman dengan menampilkan berbagai karya interior desain unik, kreatif, dan berkesan mewah.

Made memaparkan bahwa ia mendirikan bisnis ini pada tahun 2003. Pengalaman kerja selama 23 tahun pada salah satu perusahaan mebel menjadi modal dasar (basic) dalam membangun bisnisnya.

Made mengungkap bahwa modal awalnya memulai usaha ini hanya dua karung plastik kayu pantai, paku, dan palu. Dengan berbekal pengalaman mengolah kayu, Made berhasil menyulap sampah kayu menjadi produk berharga jutaan.

Made yang hanya lulusan SMA seringkali melihat banyaknya sampah kayu yang kerap berada di pinggir pantai. Jumlahnya cukup banyak apalagi jika musim hujan.

Dalam proses pembuatan kerajinan, potongan-potongan kayu yang didapat langsung disortir terlebih dahulu mana yang layak digunakan dan mana yang tidak.

Selanjutnya kayu-kayu itu dikeringkan kemudian lanjut pada tahap perakitan.

Setelah melalui proses perakitan, Made lalu mendesain dan membentuknya menjadi berbagai macam model interior yang diinginkan seperti kursi, kaca, meja, lampu, dan lain-lain.

Dalam proses merakit Made biasanya menggunakan lem kayu atau paku.

Untuk membuat produk yang berkualitas tinggi tentu harus memerhatikan dengan seksama jenis sampah kayu yang digunakan. Mulai dari konsep, konstruksi, maupun kualitas kayu agar nanti tidak terjadi masalah dalam hal perakitan.

Setelah semuanya selesai, langkah selanjutnya adalah pernis. Seluruh kursi, meja, kaca, dan karya lainnya akan dibuat mengkilap dengan cairan tertentu.

Untuk masalah persediaan kayu Made tidak terlalu ambil pusing karena memang melimpah di pinggir pantai pada saat musim hujan.

Kalau pun suatu saat ia kehabisan stock di pantai, ia siap membeli kayu bekas pada orang-orang yang menawarkannya.

Harga yang dibanderol untuk karya-karya Made Sutamaya melalui Kioski Gallery seperti kursi, meja, kaca, maupun lampu berdiri sekitar ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

kioski gallery

Produk buatan Made ini juga bisa dijamin kualitasnya. Walaupun berasal dari kayu bekas tapi ia bisa menjamin kalau karyanya itu bisa bertahan 20 sampai 30 tahun mendatang.

Made menuturkan bahwa kuatnya konstruksi kayu dikarenakan terjadi proses kimiawi.

Pada saat terombang-ambing dilautan kayu mengalami reaksi kimia dengan air laut yang berkadar garam tinggi. Akibatnya kayu menjadi awet dan tidak mudah keropos.

Ada kesenangan tersendiri yang dirasakan Made dalam menjalankan bisnisnya. Karena selain mendapat keuntungan ia juga mampu menekan jumlah sampah kayu yang ada di pinggir pantai.

Untuk pemasaran produknya sendiri sudah mencapai pasar internasional seperti Jerman, Perancis, Belanda, Afrika, dan Italia.

Made mengaku mengalami kesulitan untuk menjual produknya pada awal mula bisnis ini. Pasalanya ia hanya menunggu datangnya pembeli di Gallery-nya. Karena kurangnya pembeli sehingga mau tidak mau ia harus bergerak sendiri mencari pembeli.

Satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menjual lebih banyak produk adalah dengan mengikuti pameran.

Cara ini dianggap sebagai jalan alternetif untuk menemukan calon pembeli yang potensial.

Setelah mengikuti pameran, Made mulai bermanuver dengan media online seperti Facebook untuk memasarkan produk dagangannya.

Alhasil, dengan kedua cara itu ia berhasil meraup keuntungan besar dari bisnisnya.

Lama-kelamaan nama Made Sutamaya semakin terkenal lewat interior desain yang menggunakan sampah kayu bekas yang mampu meraup omset sampai Rp 300 juta per bulan.

Selain mempunyai omset yang besar, Made juga berhasil meraih beberapa penghargaan. Salah satunya adalah Parama Karya Award 2015 dari sang Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Made menuturkan bahwa apa yang didapatkannya saat ini adalah buah hasil kerja kerasnya yang dibantu oleh 30 orang karyawan yang justru sebagian besar dari kalangan yang putus sekolah termasuk ibu-ibu pengangguran.

Made saat ini telah memiliki 250 mitra bisnis yang tersebar di Bali, Sumbawa, Lombok, dan Jawa Timur. Ia juga menambahkan bahwa semakin banyak rekan bisnis yang dimiliki maka akan semakin baik untuk memperluas jaringan pemasaran.

Baca Juga : Kisah Asri Tadda Blogger Sukses Asal Luwu Timur yang Sangat Menginspirasi


4. Nur Handiyah : Dari Sampah Kulit Kerang Menjadi Barang Bernilai Jutaan Rupiah.


nur handiyah

Pengusaha lain yang sukses dari memanfaatkan barang bekas sebagai bahan bakunya adalah Nur Handiyah J Taguba.

Di tangan Nur, tumpukan sampah kulit kerang bisa diubah menjadi produk kerajinan tangan yang bernilai jual.

Semuanya berawal ketika Nur dan sang suami Jamie Taguba melihat banyak tumpukan sampah kulit kerang di pinggir pantai.

Nah dari situ ia bersama sang suami berencana untuk memanfaatkan sampah kulit kerang untuk diolah menjadi barang pajangan yang indah.

Bisnisnya yang bernama Multi Dimensi Shell Craft didirikan pada tahun 2000.

Untuk membuat suatu product kerajinan, terlebih dahulu kulit kerang harus dicuci bersih sebelum akhirnya siap pakai.

Tahapan selanjutnya adalah tahap pengolahan dan desain sesuai dengan yang diinginkan. Agar kulit kerang bisa kuat, dibutuhkan material tambahan sebagai penyangga. Biasanya berupa besi, alumunium, dan fiber glass.

Salah satu alasan khusus mengapa Nur menekuni bisnisnya ini adalah untuk menekan jumlah sampah kulit kerang yang berserakan di pinggir pantai.

Nur mendapat pasokan sampah kulit kerang dari para nelayan yang ada di utara Jawa. Untuk setiap ton kulit kerang dibeli dengan harga Rp 1,5 juta.

Hal ini tentu bisa jadi pendapatan tambahan bagi para nelayan yang pekerjaan utamanya mencari ikan.

Setelah dicuci bersih, selanjutnya kulit kerang dikirim ke Jalan Astapada Kavling 130, Kabupaten Cirebon Jawa Barat.

Sampah kulit kerang ini bisa dibuat menjadi barang pajangan antik seperti lampu, vas bunga, piring, kursi, meja, dan lain-lain.

Dalam proses desain sampah kulit kerang, Nur dibantu oleh para pemuda yang ada di sekitar rumahnya.

Ia sendiri sama sekali tak punya basic sebagai pengrajin kulit kerang. Ia hanya sarjana jurusan matematika dan bekerja sebagai PNS. Dan sang suami sendiri Jamie Taguba bekerja sebagai kontraktor dan mekanik.

Usahanya kian melejit ketika piring dan vas bunga yang dibuat dari kulit kerang dilirik oleh Pemerintah Daerah Cirebon.

Permintaan yang datang semakin meningkat dan Nur semakin menunjukkan kemampuannya dalam mendesain sampah kulit kerang.

Kemampuan itu ia dapatkan dari masukkan berbagai kalangan, salah satunya dari para pembeli baik yang dari dalam negeri maupun yang dari luar.

Berangkat dari masukan itu ia mulai berani memvariasikan produknya seperti lampu gantung, dan barang pajangan lain yang bernilai jual tinggi.

Nur mengaku bahwa ia dan sang suami nekat membangun bisnis dari sampah kulit kerang dengan modal yang sedikit. Mereka hanya mengandalkan aset yang dimiliki seperti pesawat telepon dan mobil bak.

Dalam hal ini aset tersebut tidak dijual, melainkan dimanfaatkan secara langsung.

Untuk lebih fokus dalam pengembangan bisnis Multi Dimensi Shell Craft, Nur dan sang suami memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya.


Di awal usahanya, proses pemasaran produk kerajinan dari kulit kerang hanya mengandalakan jaringan pertemanan yang cukup luas dari sang suami.

Harga yang ditawarkannya pun masih dalam harga promosi.

Selain itu, Nur dan sang suami juga mulai mengikuti berbagai kegiatan pameran dengan tujuan memperkenalkan produk mereka.

Nur handiyah J Taguba menuturkan bahwa rata-rata setiap bulannya ia dan suami mampu mengirimkan 4 kontainer barang pajangan yang dibuat dari kulit kerang ke berbagai negara Uni Eropa. Diantaranya yaitu Italia, Spanyol, Inggris, Perancis, dan Jerman.

Selain di Eropa, barang kerajinan milik Nur juga dikirimke berbagai negara lain seperti Amerika Serikat dan pasar Timur Tengah, mencakup Kuwait, Bahrain, Irak, dan Arab Saudi.

Pengiriman barang juga dilakukan untuk negara Jepang dan Thailand, bahkan sampai ke beberapa negara di benua Afrika.


5. Naomi Susilowati Setiono : Wanita Mandiri yang Jadi Pengusaha Batik Sukses 


Naomi Susilowati Setiono
Sumber : profilpengusahasuksesindonesia.blogspot.com

Naomi (46 tahun) adalah orang yang ingin memajukan dunia Batik Lasem sebagai kerajinan asli Indonesia yang bernilai tinggi. Baik itu dalam maupun di luar negeri. Perjuangan yang ia lakukan dalam mengembangkan batik lasem atau laseman ini sangat besar.

Meskipun ia berasal dari keluarga terpandang, ia sama sekali tak tinggi hati, justru ia selalu memperlakukan siapa saja dengan baik. Tanpa mendiskriminasi orang.

Karena suatu masalah, pada tahun 1980, lulusan Sekolah Menengah Apoteker Theresianan Semarang ini ditegur oleh orang tuanya. Dan akhirnya dikucilkan di usianya yang baru menginjak 20 tahun. Saat itu Naomi hengkang menuju Kabupaten Kudus.

Masa itu adalah masa yang sulit baginya, tetapi sebagai gadis remaja yang mandiri ia berani banting tulang untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

Awalnya Naomi bekerja sebagai tukang cuci pakaian. Karena tergiur penghasilan yang lebih tinggi, ia beralih profesi jadi pemotong batang rokok di Pabrik Djarum Kudus.

Namun karena kurang cekatan, ia hanya memperoleh penghasilan yang sedikit, yaitu Rp 375 per hari. Padahal pekerja lain bisa memotong batang rokok sampai berkarung-karung dan berpenghasilan Rp 2.000-an perhari.

Kemudian ia beralih profesi jadi kernet bus Semarang-Lasem. Singkatnya ia diminta kembali oleh orang tuanya tinggal di Lasem. Itu juga dengan berbagai cemoohan. Derajat Naomi seakan-akan lebih rendah dari pembantu. Mau minta makan dan air saja ke pembantu. Bahkan ia tidak diperbolehkan memasuki rumah besar.

Tetapi Naomi tidak dendam pada keluarganya. Semua perlakuan itu ia terima dengan lapang dada. Dari situ perlahan ia mulai mempelajari cara pembuatan batik lasem.

Diawali dari proses pendesainan, cara memegang canting, melapisi kain dengan malam, dan bagaimana cara mewarnai dengan baik ia perhatikan dengan seksama. Ini juga termasuk salah satu faktor keberhasilan Naomi Susilowati Setiono.

Sampai pada suatu hari di tahun 1990, orang tuanya memutuskan untuk tinggal di Jakarta bersama adik-adiknya. Naomi mau tidak mau harus meneruskan usaha batik yang ditinggal orang tuanya. Disinilah awal dari kesuksesan sosok Naomi dalam dunia perbatikan.

Salah satu perubahan yang ia lakukan pada usaha orang tuanya adalah mengubah sistem dan aturan lama bagi para pekerja. Dalam hal ini ia memberi kesempatan pada para pengrajin untuk menjalankan ibadah shalat.

Suasana kerja juga tak lagi seperti atasan dan bawahan. Naomi menganggap para pengrajin sebagai rekan usaha yang sama-sama menguntungkan dan membutuhkan.

Saat siang hari, ia terjun langung dalam proses pembuatan batik. Sementara malam harinya digunakan untuk membuat desain.

Dibandingkan dengan batik Solo dan Yogya, batik lasem atau laseman memiliki perkembangan yang jauh tertinggal. Naomi dengan menggunakan peralatan tradisional berusaha membuat perkembangan pada batik laseman.

batik laseman
Sumber : mainmain.id

Ia mengerahkan 30 pengrajin Batik Tulis Tradisional Laseman Maranatha di Jalan Karangturi I/ I Lasem, Rembang dimana ia sebagai pemimpinnya.

Jadi tak heran bila rekan-rekannya memintanya untuk menjadi ketua cluster batik lasem yang saat ini belum diberi nama. Untuk kedepannya, cluster ini akan diberi nama semacam asosiasi pengrajin atau pengusaha batik lasem.

“Tentu saja semua itu tak akan terjadi tanpa adanya kebaikan Tuhan” ujar Naomi sembari mensyukuri atas perbaikan hidup yang dialaminya.

Walaupun ia bukan pengusaha batik nomor satu di Kabupaten Rembang, tetapi beliau sudah cukup terkenal dalam dunia perbatikan. Khususnya batik lasem.

Dengan statusnya yang single parent dan memiliki dua orang anak yaitu Priskilla Renny (23) dan Gabriel Alvin Prianto (17), ia juga aktif sebagai pendeta di beberapa gereja. Belakangan ini ia disibukkan dengan mengisi seminar ke berbagai instansi tentang seluk beluk batik lasem.

Saat ini ia juga sedang merintis pengaderan pengrajin batik ke sekolah-sekolah secara gratis. Tentu saja ini termasuk langkah yang diambil agar batik laseman bisa terus berkembang.

Naomi menuturkan “ Kalau bukan kami sendiri yang mengader,  siapa lagi? Kita tidak bisa hanya terus mengandalkan pemerintah!”

Naomi bahkan pernah mengemukakan gagasannya di hadapan Bupati Rembang Hendarsono untuk menambahkan cara membatik ke dalam pelajaran muatan lokal. Namun sayang, ide tersebut tidak ditanggapi dan dianggap tidak berhasil.

Sampai disini Naomi tak langsung menyerah, ia langsung terjun ke sekolah-sekolah untuk menyampaikan gagasan tersebut. “Untuk masalah tempat tidak usah khawatir, saya bisa meminjam balai desa, jadi tak perlu keluar uang” tutur Naomi.

naomi mengader
Sumber : wirausahawankita.blogspot.com

Di tengah kesibukannya, produktivitasnya tak pernah menurun. Naomi dan kawan-kawannya menghasilkan rata-rata 150 potong batik tulis perbulannya. Batik motif akulturasi budaya Cina dan Jawa ini dikirim ke beberapa daerah seperti Serang, Medan, dan Surabaya.

Naomi telah membuktikan pada kita bahwa segala usaha, kerja keras, dan pantang menyerah akan selalu membuahkan hasil yang manis. Jadi kalau ditanya hal-hal apa saja yang membuat Naomi Susilowati Setiono sukses dan berhasil? Maka inilah jawabannya.

Ditambah lagi dengan keinginannya yang kuat untuk memajukan batik di Indonesia agar jaya kembali. Karena kecintaannya terhadap batik membuatnya sadar bahwa batik adalah kebudayaan bangsa yang harus dilestarikan.

Kalau ia saja bisa seperti itu, mengapa kita tidak coba melakukan hal hal yang membuat wirausahawan Naomi Susilowati Setiono berhasil? Jadi tunggu apa lagi? Ayo ikut sukses!


6. Komang Adi : Dari Hobi Melukis Hingga Jadi Pengusaha Berpenghasilan 175 Juta Perbulan


komang adi
Sumber : adeliaamanda.wordpress.com

Dialah Komang Adi, pelukis asal Gianyar, Bali. Yang saat ini telah sukses setelah melalui banyak tantangan dan rintangan. Ayo kita bahas biografi Komang Adi pelukis Bali.

Komang Adi sendiri sejak masih anak-anak sudah hobi melukis. Setelah tamat SMP ia memutuskan untuk lanjut ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Batu Bulan, Sukawati demi mengasah hobinya.

Pada tahun 1997 ia lulus dan memilih untuk terjun langsung menekuni dunia lukis sekaligus menjadikannya sebagai ladang usahanya. Saat itu lukisan masih belum banyak peminatnya.

Jadi Komang mengawali usahanya dengan menjual aneka macam pigura lukisan dan foto. Dari situ, ia sendiri mulai memasarkan piguranya dan mengenalkan usahanya pada para pelanggan.

Sembari memasarkan pigura, Komang juga tetap berlatih guna mengambangan kemampuan melukisnya dan mengamati seperti apa lukisan di pasaran. Inilah hal hal yang membuat komang adi berhasil dan sukses seperti sekarang ini.

Di tahun 2000, Komang memberanikan diri memasarkan lukisannya. Mulai dari menjual satu sampai dua lukisan perharinya dan terus berkembang hingga akhirnya Komang telah memiliki galeri sendiri yang ia beri nama “Komang Adi Galeri”.

komang adi galeri
Sumber : peluangusaha.kontan.co.id

Lukisan karya Komang Adi sudah menembus pasar luar negeri. Diantaranya Australia, Jerman, Amerika, Jerman, dan Perancis.

Saat itu permintaan lama-lama kian meningkat dan Komang sudah tak sanggup bila harus melayaninya sendiri. Dari situ ia mulai merekrut beberapa pelukis untuk dijadikan karyawan. Sampai saat ini, komang telah memiliki 34 pelukis yang bekerja untuknya.

Komang bisa menjual 300 lukisan ke pasar domestik tiap bulannya dan untuk ke mancanegara ia rutin mengirim sekitar 300 lukisan setiap 3 bulan sekali. Peminat lukisan Komang Adi di Indonesia datang dari berbagai kota seperti Bandung dan Jakarta.

Harga lukisan di galeri Komang dibanderol mulai dari Rp 50 juta – Rp 45 juta untuk ukuran yang sangat besar. Komang mengaku omzet dari usahanya ini sekitar Rp 175 juta perbulannya. Dari sini kita bisa belajar bahwa bisnis sukses itu berawal dari yang kecil, itulah yang terjadi Komang Adi Gallery milik Komang Adi.

Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata lukisan Komang tak hanya diminati oleh orang Indonesia saja, tetapi juga banyak orang asing yang melancong ke Pulau Dewata dan mampir ke galerinya.

Komang berusaha mencari strategi bagaimana cara menggaet lebih banyak turis agar datang ke galerinya. Yaitu dengan bekerja sama dengan para tour guide dan agen perjalanan untuk mengajak turis ke galerinya.

Dan sebagai imbalannya. Setiap tour guide atau agen perjalanan yang berhasil membawa turis untuk datang ke galerinya dan membeli lukisan akan mendapatkan komisi dari Komang. Jumlah komisi yang didapat dihitung berdasarkan harga lukisan yang terjual.

Sejak saat itulah pesanan lukisan semakin membludak dan akhirnya Komang membuat website agar pembeli bisa melakukan pemesanan secara online maupun melalui telepon. seperti itulah jalan hidup dan profil Komang Adi.

Saat ini Komang tak usah lagi repot-repot mempromosikan lukisannya melalui pameran atau sejenisnya. Ia tak perlu lagi menjemput bola, melainkan bola/pelanggan sendirilah yang datang padanya untuk memesan lukisan. Semoga kisah sukses wirausahawan Komang Adi ini bisa menginspirasi kita semua.


Penutup


Itulah beberapa kisah singkat wirausahawan sukses di bidang kerajinan dari barang bekas yang mudah-mudahan bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi Anda yang sedang ingin memulai usaha.

Untuk kisah wirausahawan sukses di bidang kerajinan tekstil mungkin akan dibahas pada artikel selanjutnya.

Apabila ada yang ingin Anda tambahkan atau bagikan pada postingan ini, silahkan tuangkan komentarnya pada kolom yang telah disediakan di bawah ini.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar